Merusak Hutan Sama Saja Mengundang Penyakit Baru Berdatangan
Klikhijau.com – Dalam novel silat Bu Kek Siansu karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Digambarkan dengan sangat jelas bahwa pendekar-pendakar sakti banyak menghuni hutan dan gunung. Pendekar-pendekar i...
Klikhijau.com – Dalam novel silat Bu Kek Siansu karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Digambarkan dengan sangat jelas bahwa pendekar-pendakar sakti banyak menghuni hutan dan gunung.
Pendekar-pendekar ini tidak merusaknya. Menganggap hutan dan gunung sebagai kesatuan dan penopang hidup manusia.
Merusaknya berarti merusak pula kehidupan manusia. Hutan adalah sumber kehidupan alami yang harus dijaga.
Hutan menawarkan banyak hal yang bisa menjamin kehidupan manusia lebih baik. Hanya sangat disayangkan, banyak yang tak puas dan puasa, ingin hasil yang lebih banyak. Sehingga rela merusaknya.
[irp]
Harus diakui hutan menyimpan pundi-pundi rupiah yang bisa membuat hidup mewah. Ada kayu, tambang dan lain sebagainya.
Namun tahukah kamu, ada sebuah penelitian mengungkapkan jika merusak hutan sama saja mengundang penyakit berdatangan menimpah manusia.
Penelitian itu datang dari Stanford University, Amerika Serikat yang menemukan bahwa berkurangnya luasan hutan di Uganda berisiko meningkatkan interaksi manusia dengan primata liar. Interaksi yang meningkatkan risiko kontak manusia dengan virus yang ada pada primata liar tersebut.
Ada beberapa bukti jika wabah penyakit zoonosis, penyakit yang ditularkan melalui satwa liar yang tercatat terjadi di Uganda, seperti virus Ebola dan virus Marburg.
Kedua virus ini dapat menginfeksi baik manusia maupun kera, menyebabkan pengidapnya mengalami demam yang diikuti oleh pendarahan dalam.
Dan yang melanda dunia sekarang, yakni virus corona. Kabar awal yang tersiar tentang virus ini diduga berasal dari hewan liar kelelawar. Habitat asli kelelawar adalah hutan.
Penyakit baru menurut penelitian tersebut hampir selalu bermula dari perambahan habitat dan praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan yang dilakukan oleh manusia.
Kajian lain yang dilakukan terhadap penyakit baru yang muncul pada 2010-2011 di seluruh dunia. Kajian itu menemukan bahwa peternakan dengan populasi hewan yang terlalu padat atau daerah yang mengalami aktivitas pembangunan yang tidak ramah lingkungan kerap berujung kepada penyebaran penyakit.
Sederhananya, semakin banyak hutan yang rusak, interaksi manusia dengan primata liar semakin intim. Hal ini tentu saja berisiko, sebab banyak satwa liar yang bisa membawa virus ke manusia.
[irp]