Wabah Corona, Gejala Psikosomatis, dan Imajinasi Penyakit

Publish by -141 kali dilihat
Penulis: Isma Swastiningrum
Wabah Corona, Gejala Psikosomatis, dan Imajinasi Penyakit
Gangguan psikosomatis-Foto/alodokter.com

Klikhijau.com – Wabah corona (covid-19) tidak hanya memunculkan kekhawatiran dan kecemasan bagi masyarakat, tapi secara individu gejala psikosomatis juga ada yang mengalami.

Tentang Psikosomatis

Psikosomatis berasal dari dua terma Yunani, psyche yang berarti pikiran dan soma yang berarti tubuh. Yaitu suatu penyakit yang disebabkan karena pikiran, kemudian pikiran tersebut menyebabkan tubuh menjadi sakit. Antara apa yang dirasakan dan bahaya nyata sudah tidak bisa lagi dibedakan.

Perasaan cemas ini lebih cepat menyebar dan menularnya dibandingkan dengan penyakit itu sendiri. Paparan kecemasan bisa Anda dapat darimana saja di dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Terutama melalui informasi yang berseliweran di lingkungan terdekat hingga media sosial.

KLIK INI:  Salju Mengandung Plastik Turun di Kutub Utara
Kecemasan yang berbahaya

Kecemasan diserap oleh pikiran yang kemudian diteruskan ke tubuh.

Kecemasan mengakibatkan seseorang yang sebenarnya tidak terinfeksi wabah corona karena kecemasan bisa menyebabkan dirinya menderita gejala “mirip” dengan wabah corona.

Bisa jadi orang yang menderita psikosomatis ini datang ke petugas medis. Tapi tak menemukan penjelasan ilmiah yang tepat akan penyakit yang dialami.

Kompas sebagaimana melansir dari Psychology Today menulis, meskipun penyakit psikosomatis literally tak menular secara fisik, tapi penyakit ini dapat menular secara emosional.

Dari sumber yang sama dikutip, penelitian Wheaten dengan judul Psychological Predictors of Anxiety in Response to the H1N1 (Swine Flu) Pandemic menyatakan ketika suatu wabah dipublikasikan secara luas, bisa menyebabkan penyakit psikogenik massal.

Jika kondisi “psikogenik massal” ini terjadi, bisa menyebabkan dampak yang tak baik. Di antaranya seseorang bisa kehilangan pekerjaan akibat tak bisa bekerja dengan maksimal di tengah pandemi.

Mobilitas menjadi sangat terbatas, keinginan bermalas-malasan dan rebahan meningkat, serta untuk pekerjaan tertentu yang mengharuskan keluar rumah jadi terhambat.

Belum lagi dampak konsumerisme yang jadi kian tinggi bisa menjadikan seseorang banyak menggunakan sumber daya medis dan penimbunan pangan secara berlebihan.

Seperti menggunakan hand sanitizer yang banyak, pakai masker meski tak sakit. Atau memborong makanan di supermarket hingga orang yang lebih membutuhkan seperti orang tua tak kebagian, dan lain-lain.

Imajinasi Psikosomatis

Pikiran mempengaruhi tubuh memang benar adanya. Seseorang ketika mendekati deadline tapi pekerjaan belum selesai atau mau ujian tapi tidak belajar, lebih rentan pikirannya jadi tertekan yang kemudian membuat tubuh jadi merasa lebih lelah, pusing, pegal, hingga mual.

Jika ini tak kunjung ada solusinya, cenderung akan memperburuk kondisi fisik.

Faktor mental yang bisa berpengaruh besar terhadap penyakit fisik yaitu pikiran negatif dan/atau masalah emosi. Terutama pikiran atau emosi seperti trauma, depresi, perasaan bersalah, dan lain sebagainya.

Ini terjadi karena pikiran negatif meningkatkan aktivitas impuls saraf di otak. Impuls ini kemudian akan dikirimkan ke tubuh. Impuls ini juga mempengaruhi sel tertentu di dalam otak yang berhubungan dengan sistem imun yang bisa membuat kekebalan tubuh jadi turun.

Sebagaimana wabah lainnya, perlu ada pemikiran jika setiap orang mau bekerja sama menangani, wabah ini pasti akan berlalu.

Cara-cara yang bisa dilakukan yakni dengan menerapkan pola hidup sehat, baik secara fisik maupun mental. Seperti berolahraga di dalam rumah, menjaga pola tidur, dan membatasi informasi yang membuat cemas dan menambah tekanan.

Lebih peka terhadap perasaan, pikiran, dan tubuh bisa menjadi alternatif yang untuk lebih sadar akan apa yang terjadi. Siddharta Mukherjee dalam bukunya The Emperor of Maladies: A Biography of Cancer (2010) pernah menyatakan pula:

“When a disease insinuates itself do potently into the imagination of an era, it is often because impinges on an anxiety latent within that imagination. AIDS loomed so large on the 1980s in part because this was a generation inherently haunted by its sexuality and freedom; SARS set off a panic about global spread and contagion at a time when globalism and social contagion were issues simmering nervously in the West. Every era casts illness in its own image. Society, like the ultimate psychosomatic patient, matches its medical afflictions to its psychological crises; when a disease touches such a visceral chord, it is often because that chord is already resonating.”

Suatu wabah tertentu hadir karena sebelumnya imajinasi dan gambaran-gambaran terhadap penyakit sudah ada terlebih dulu, di mana imajinasi ini dimiliki oleh banyak orang, bahkan secara global.

Imajinasi ini berkaitan dengan pembatasan akan fisik, mental, dan jiwa seseorang yang kemudian terakumulasi dari tekanan jiwa menuju tubuh yang sakit.

Kecerendungan Psikosomatis

Menurut penelitian Fitriani dan Rois (2014) menunjukkan pula jika kecerendungan psikosomatis terjadi pada subjek yang masih mempercayai hal-hal yang berhubungan dengan tahayul.

Penelitian yang dilakukan secara kualitatif menggunakan metode observasi dan wawancara pada dua orang yang tinggal dalam lingkungan yang masih percaya tahayul tersebut menunjukkan, terdapat kecerendungan bahwa penyakit fisik yang sedang dialami dengan tahayul yang berkembang di masyarakat.

Ini tentu menyebabkan penanganan dan pengobatan secara medis jadi keliru atau tidak tepat. Seperti pergi ke orang pintar (dukun). Pendekatan psikosomatis mengikuti sistem timbal balik antara faktor fisik dan mental.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerendungan psikosomatis yakni, pengetahuan, lingkungan sosial, lingkungan keluarga, budaya, hingga perekonomian seseorang.

Berbagai cara untuk mengatasi situasi ini salah satunya dilakukan melalui terapi. Penelitian dari Geraldina dan Hadiwono (2019) menunjukkan, media seni seperti seni rupa dapat digunakan untuk menyembuhkan atau menjadi terapi seseorang yang mengalami psikosomatis.

Mengekspresikan jiwa dengan seni

Kegiatan yang bisa dilakukan yang paling sederhana yaitu dengan melihat-lihat karya seni. Juga dengan membuat karya seni itu sendiri, seperti seni rupa yang universal karena bisa dilakukan oleh banyak orang bahkan bagi mereka yang merasa tak memiliki keahlian khusus.

Efek yang dihasilkan dari melakukan kegiatan mengekspresikan diri lewat seni ini disebut sebagai brain plasticity. Di mana dengan melakukan kegiatan seni, otak akan terstimulasi dan jariangan-jaringan di dalamnya akan berkomunikasi.

Cara ini bisa menjadi alternatif. Apalagi jika dilakukan di area-area dengan kehidupan metropolitan, kesibukan tinggi, macet, hingga daerah yang memiliki tingkat pendapatan rendah. Bisa dilakukan di ruang terbuka yang bisa diakses banyak orang.

Tak hanya seni rupa, proses penyembuhan psikosomatis dalam konteks wabah corona yang tengah dialami sekarang bisa dikembangkan dalam media seni lain yang lebih mendukung.

Adanya anjuran untuk bekerja dalam rumah semisal, beberapa media seni seperti musik dan menulis bisa menjadi rujukan. Sederhana-sederhana saja, mendengarkan musik kesukaan semisal.

Ketika pikiran menjadi lebih terkendali, otomatis juga akan mengendalikan dan menyembuhkan sisi lain seperti fisik seseorang.

Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!