Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

El Nino Bertahan hingga Awal 2027, Para Penyuluh di Sulawesi Selatan Belajar Mencegah Karhutla dari Akarnya

Oleh Reihan Zainal 24 Sep 2026 21:56 3 menit baca

Klikhijau.com - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Selatan semakin nyata. Fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027, sementara data menunjukkan eskalasi titik api di sejumlah wilayah terus meningkat sejak 2019. Di tengah situasi itu, peran penyuluh kehutanan tidak lagi cukup hanya mencegah api, melainkan harus mengubah pola pikir masyarakat yang masih membakar lahan dan sampah di tempat terbuka.

Pesan tersebut disampaikan dalam Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan yang digelar Kamis, 24 September 2026, di Hotel Harper Perintis, Makassar. Kegiatan yang mengusung tema peran penyuluh dalam mitigasi bencana karhutla untuk mendukung target FOLU Net Sink 2030 ini dibuka oleh Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasi.

Dalam arahannya, Indra menekankan pentingnya mekanisme pencegahan sebelum api muncul. Ia mengingatkan bahwa dampak El Nino pada 2027 diperkirakan lebih besar.

“Edukasi juga perlu dihadirkan karena banyak di antara masyarakat yang belum sadar akan kebiasaan mereka membakar sampah di lahan terbuka,” ujarnya.

Menurutnya, peran penyuluh ke depan bukan hanya soal pencegahan kebakaran, tetapi bagaimana mengubah pola pikir masyarakat mengenai dampak fatal dari pembakaran lahan.

Lebih baik mencegah daripada mengobati

Prediksi iklim yang disampaikan Era Isdhiartanto, memperkuat kekhawatiran itu. Berdasarkan data BMKG, fenomena El Nino akan bertahan sampai awal 2027. Langkah adaptif yang disarankan meliputi peningkatan konsolidasi antarpihak dan penegasan regulasi kepada individu maupun industri. Ia mencatat bahwa Sulawesi Selatan mengalami peningkatan eskalasi kebakaran hutan di beberapa titik dari 2019 hingga 2026.

Pendekatan yang lebih humanis ditawarkan Pemilu Arman Labahi, S.P, menilai banyak pembakaran lahan masih dilandasi budaya lama.

“Mengubah pola pikir mereka tidak cukup dengan ungkapan ‘seharusnya’, tetapi harus dilunakkan dengan ‘sebaiknya’ untuk mendapatkan respons positif,” katanya.

Penyuluh, menurutnya, harus hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan, bukan hanya saat api sudah menyala.

Data yang lebih mengkhawatirkan datang dari Hidayat, Kepala Bidang Perhutanan Sosial Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan. Ia menyatakan 90 persen kasus karhutla disebabkan oleh tangan manusia. El Nino memang faktor, tetapi bukan satu-satunya.

“Regulasi yang hadir belum terlalu efektif mengatasi karhutla. Pemerintah juga perlu menghadirkan solusi jangka panjang seperti penegakan hukum untuk para pelanggar sebagai efek jera, serta meningkatkan kapasitas tenaga kerja penyuluh kehutanan berupa pendidikan dan pemberian fasilitas yang memadai,” tegasnya.

 

Sesi praktis digelar pada siang hari. Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Sulawesi I memberikan edukasi penggunaan alat pemadaman, demonstrasi, dan simulasi menghadapi karhutla secara langsung. Penyuluh diajak memahami fungsi peralatan lapangan hingga praktik memadamkan api.

Kegiatan yang diikuti para penyuluh kehutanan se-Sulawesi Selatan ini menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan teknologi atau regulasi. Perubahan dimulai dari cara masyarakat memandang api dan lahan, dan penyuluh berada di garis depan perubahan itu.

Topik terkait
El nino Karhutla Edukasi Kehutanan