Meribang Sawah

Hatinya ditumbuhi duri-duri, menusuk-nusuk tidak berjeda. Pikirannya bercabang, dari cabang itu tumbuh tunas yang mengakar kuat mengusiknya. Tidak ada seutas benang bisa ia tarik—apa penyebab ia bisa...

Meribang Sawah
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Hatinya ditumbuhi duri-duri, menusuk-nusuk tidak berjeda. Pikirannya bercabang, dari cabang itu tumbuh tunas yang mengakar kuat mengusiknya. Tidak ada seutas benang bisa ia tarik—apa penyebab ia bisa begitu. Yang paling mungkin adalah ia merasa sendiri. Tapi, kesendirian harusnya membuatnya damai di tengah riuh cemas yang memekikkan telinga—mendenyutkan kepala.

Lelap telah lama menyingkir dari matanya. Jika pun tidur, hanya sejenak kemudian terbangun tengah malam. Menyerapi segala sepinya. Di seputaran matanya telah tampak kehitaman, bertengger dengan manja. Tubuhnya kian kurus, tulang di dadanya tampak menonjol. Matanya menukik ke dalam. Wajahnya kusut. Konsentrasinya lebih banyak pecah. Tubuhnya ringkih—lemah lunglai.

“Jika dua malam ke depan aku tidak bisa tidur, aku akan pulang kampung, ke kampung orang tuaku,” pikirnya. Ia menganggap kampung bisa membuatnya lelap, membikin hatinya teduh.

“Kampung, hahhahahhaa.” Ia tertawa ketika dalam rencananya menyebut nama “kampung”—sesuatu yang asing baginya. Ia lahir di rantauan yang terpaksa. Ada satu kisah menimpa orang tuanya, yang rasanya malu jika  harus dibeberkan. Itu aib kecil yang berusaha ditimbunnya sedalam mungkin. Serapat yang ia bisa.

*****

Saat terbangun tengah malam atau tidak bisa tidur. Hal yang paling diingatnya adalah cerita ayahnya perihal pertemuan dengan ibunya, dan juga sawah. Sawah telah jadi kenangan tersendiri bersama ayahnya yang terus basah. Ya, ayahnya sering, sangat sering bercerita tentang sawah kepadanya, hingga  lahirkan rasa penasaran meluap penuhi pikirannya. Ia hanya bisa melihat sawah melalui foto, tapi itu tidak cukup, ia ingin rasakan berjalan di pematangnya. Menjagai burung pipit yang menjadi hama  menakutkan petani jelang panen atau merasakan bau lumpurnya,  yang menurut ayahnya—baunya melenakan.

“Sepulang dari sawah, di awal malam. Ayah melihat ibumu di jendela rumahnya. Ayah belum pernah seberdebar saat ibumu menatap ayah sambil tersenyum. Berhari-hari ayah susah tidur memikirkannya.”

“Ayah takut sama perempuan?” ledeknya

“Bukan takut, tidak ada lelaki yang layak takut pada perempuan, sebab perempuan bukan untuk ditakuti, tapi untuk dicintai dan dilindungi.”

“Terus, kenapa ayah berdebar?”

“Kedudukan ayah tidak mungkin menjangkau ibumu. Di kampung, sitinaja ‘pantas, patut’  dijunjung tinggi, ada adat sitinaja harus dipikirkan jika ingin bertindak, termasuk dalam hal asmara. Tapi, tidak ada yang bisa memilih kepada siapa ia jatuh cinta,” terang Ayah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2