Meresapi Puisi Alam dari Penerima Nobel Sastra, Louise Glück yang Menyentuh

Klikhijau.com – Dalam dunia sastra, prestasi Louise Glück memang keren. Sebelum ia menerima penghargaan  Nobel Sastra—prestasi tertinggi dunia sastra. Gluck telah menerima sederet penghargaan. Peng...

Meresapi Puisi Alam dari Penerima Nobel Sastra, Louise Glück yang Menyentuh
Bacakan Artikel

Aku jatuh sedih saat terpikir
yang mati tak akan melihat mereka lagi—
segala tempat kita bersandar ini,
seakan sirna.

Lalu apa yang bakal menghibur jiwa?
Kukatakan pada diri mungkin jiwa tak butuh lagi
kesenangan macam ini;
mungkin sekadar tiada sudah cukup,
sesuatu yang sulit dibayangkan.

Bunga Iris Liar


 

Di ujung deritaku
kutemukan pintu.

Dengarlah aku: kuingat apa yang kausebut
maut.

Suara-suara, desing bising, gemerisik dahan pinus.
Lalu sunyi. Matahari berkedip lemah
pada tanah kering.

Betapa berat bertahan
saat kesadaran
terkubur dalam bumi kelam.

Lalu semua usai: yang kautakutkan,
menjadi sukma yang tak mampu bicara,
berakhir tiba-tiba, tanah yang kaku
dan melekuk. Dan yang kuraih ternyata
burung-burung yang mendarat di belukar rendah.

Kau yang tak ingat
perjalanan dari dunia lain
kukatakan kepadamu aku bisa bicara lagi: apa pun
yang kembali dari keterlupaan akan datang
untuk menemukan suara;

dari pusat hidupku muncul
mata air raya, bayangan biru tua
pada samudra biru muda.

Senja


 

Seiring lingsir matahari,
petani membakar guguran daun.

Apinya tak berarti.
Ia kecil dan terkendali,
seperti keluarga dikepalai diktator.

Tapi saat kobarnya membesar, petani menghilang,
tak lagi tampak dari jalan.

Dibanding matahari, api di sini
berumur singkat, amatiran,
dan saat daunnya habis ia pun mati.
Dan petani tampak lagi, mengorek abunya.

Tapi kematian itu nyata.
Seakan matahari purna tugasnya,
menghidupkan sawah, lalu
memantik api membakar dunia.

Ia pun kini boleh tenggelam.

Itulah tiga puisi yang beraroma alam dari si penyair mitos, Louise Glück. Selamat menikmati!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2