Menggugah Kepedulian Generasi Muda Melalui Pendidikan Konservasi Elang Jawa
Klikhijau.com - Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan satu dari empat jenis elang yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jenis elang lain yang menghuni TNGGP adalah elang bron...
Klikhijau.com - Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan satu dari empat jenis elang yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Jenis elang lain yang menghuni TNGGP adalah elang brontok atau Nisaetus cirrhatus, elang ular bido atau Spilornis cheela, dan elang hitam atau Ictinaetus malayensis. Keberadaan elang-elang ini di alam masih relatif terjaga.
Khusus elang Jawa, pada hari Jumat, 27 Mei 2022 lalu. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melakukan kegiatan Sosialisasi Program Konservasi Elang Jawa. Kegiatan sosialisasi itu digelar di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi.
Sosialisasi tersebut terlaksana atas kerja sama dengan Taman Safari Indonesia (TSI), PT. Smelting, dan Filantra. Tujuannya untuk memperkenalkan pentingnya kegiatan konservasi elang jawa dan habitatnya kepada generasi muda, sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan peduli terhadap pelestarian elang Jawa secara berkelanjutan.
[irp]
"Melalui sosialisasi Pendidikan Konservasi Elang Jawa ini diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan, pemahaman untuk meningkatkan kesadaran, dan kepedulian semua pihak akan pentingnya melestarikan satwa langka ini agar dapat diwariskan kepada para generasi mendatang secara berkelanjutan," ujar Indra Eksploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat memberi sambutan.
Mendukung kehidupan elang
Indra juga menjelaskan, kondisi alam TNGGP secara umum cukup mendukung kehidupan elang pada habitat aslinya, dengan bentang alam yang sesuai, yakni lembah tempat berburu, bukit, pohon yang tinggi tempat mengincar mangsa, kelimpahan pakan, serta aktivitas manusia yang masih tergolong tidak terlalu tinggi). Terlebih dengan terus dilakukan upaya restorasi pada kawasan yang terdegradasi (eks hutan produksi yang beralih fungsi menjadi kawasan konservasi). "Kondisi ekosistem di TNGGP diharapkan dapat kian mendukung kehidupan berbagai satwa," imbuh Indra. Keberadaan Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad dibangun pada tahun 2020. Pembangunannya sendiri melalui sumber dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan beberapa pertimbangan, yakni: [irp]-
Karena sejarah
-
Tempat pelestarian elang Jawa
-
Menjadi sarana edukasi
- Pembekalan pendidikan konservasi
- Pelatihan pengelolaan bank sampah
- Pelatihan pengembangan e-commerce bagi produk kerajinan tangan
- Media informasi di pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa, dan
- Pembangunan saung “Balik Ka Bumi”