Menurut Genetika, Begini Alasan Satwa Langka Rentan Punah

Publish by -91 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Menurut Genetika, Begini Alasan Satwa Langka Rentan Punah
Badak Sumatera/Foto-liputan6

Klikhijau.com – Kabar matinya satwa langka atau satwa yang terancam punah satu persatu memang menyesakkan dada bukan? Akhir November lalu, badak Sumatra betina terakhir bernama Iman akhirnya mati.

Kanker yang telah sekian lama diidapnya ini tak mampu lagi ia lawan. Iman mati di negeri Jiran, Malaysia.

Iman adalah badak kedua yang mati karena kanker dalam beberapa tahun belakangan, setelah Puntung. Satwa langka Badak Sumatra betina di Sabah, juga harus disuntik mati karena kanker juga.

Kanker hanyalah satu dari banyak kelainan sel mematikan yang muncul akibat mutasi yang merusak fungsi sel dalam populasi satwa liar.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan Monyet Surili, Maskot PON Jabar 2016

Kelainan bentuk wajah dan alat gerak atau tulang belakang, juga dapat menurunkan peluang hidup mereka.

Selain translokasi dan penangkaran, teknologi modifikasi genom dapat mengatasi masalah penyakit genetik pada satwa liar.

Meski peluang teknologi genomik tampak menjanjikan, riset lebih dalam diperlukan. Hal itu untuk memahami dinamika genom makhluk hidup dan mengumpulkan lebih banyak bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab punah dan langkanya satwa

Tentu bukan hanya perburuan ilegal saja. Banyak penyakit genetik mematikan yang dapat menyebabkan kepunahan pada satwa liar yang terlanjur memiliki populasi berukuran kecil.

Kurangnya alternatif pasangan kawin baik di alam maupun penangkaran meningkatkan kecenderungan perkawinan sekerabat. Perkawinan ini menurunkan variasi genetik yang diperlukan untuk memperluas spektrum kerja sistem imun tubuh.

Terakumulasinya mutasi berbahaya akibat perkawinan sekerabat juga dapat menurunkan tingkat harapan hidup suatu populasi.

Alasannya, sebab sebagian besar hewan bertulang belakang, termasuk manusia, fungsi tubuh sangat bergantung kepada gen-gen. Gen-gen ini yang membawa informasi yang diperlukan untuk menjaga sel tetap sehat.

KLIK INI:  Paus Pembunuh yang Pernah Berkabung 17 Hari Akhirnya Punya Anak

Gen biasanya memiliki dua salinan di dalam sel, dan setiap salinan dapat memiliki variasi. Variasi dalam salinan gen ini disebut alel.

Alel-alel ini dapat mengalami mutasi yang merusak fungsi sel. Ketika satu salinan mengalami mutasi dan salinan lain tidak, gen tersebut biasanya masih dapat berfungsi.

Ketika perkawinan sekerabat terjadi, peluang bertemunya dua salinan yang membawa mutasi yang mengganggu fungsi gen semakin besar.

Mutasi-mutasi gen yang merusak biasanya dapat terkumpul dalam suatu populasi. Itu karena tidak berhasil dieleminasi oleh seleksi alam.

Seleksi alam tidak dapat bekerja karena fungsi tubuh tidak langsung terganggu. Mutasi tersebut berpeluang besar diturunkan ke generasi selanjutnya.

Jika tidak ada variasi baru dan perkawinan sekerabat terus terjadi, mutasi-mutasi berbahaya ini dapat terkumpul sampai taraf yang mematikan.

Upaya translokasi satwa

Untuk mengatasi masalah mutasi gen berbahaya, translokasi pun dilakukan. Upaya ini dilakukan dengan menambahkan individu baru ke dalam populasi yang terancam punah.

Individu baru ini berasal dari populasi yang berbeda. Ia diharapkan membawa varian genetik yang berbeda untuk melarutkan mutasi berbahaya dalam populasi kecil.

Dalam sebagian besar kasus, kesintasan populasi spesies meningkat akibat upaya ini.

Salah satu upaya translokasi yang berhasil dan kerap menjadi percontohan di seluruh dunia adalah translokasi singa gunung (Puma concolor coryi) di Amerika Serikat.

Namun sayangnya, keberadaan individu baru dari populasi dengan komposisi genetik berbeda tidak selalu berujung kepada kesintasan populasi.

Upaya translokasi, meskipun cukup menjanjikan, perlu dilakukan dengan hati-hati. Sejarah genetik populasi asal individu juga penting dipertimbangkan.

KLIK INI:  Burung Enggang Gading, Pelestari Hutan yang Haus Perhatian
Editor: Ian Konjo
Sumber: Theconversation.com

KLIK Pilihan!