Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Mengenang Ajip Rosidi dalam 9 Puisinya yang Bercerita tentang Alam

Klikhijau.com – Puisi-puisi Ajip Rosidi banyak menggunakan diksi alam. Penggunaan diksi alam tersebut memiliki kekuatan yang menyentak dan menyentuh. Ajip Rosidi atau Ayip Rosidi adalah tokoh penti...

Oleh Irhyl R Makkatutu 30 Jul 2020 01:02 5 menit baca
Klikhijau.com – Puisi-puisi Ajip Rosidi banyak menggunakan diksi alam. Penggunaan diksi alam tersebut memiliki kekuatan yang menyentak dan menyentuh. Ajip Rosidi atau Ayip Rosidi adalah tokoh penting bagi Indonesia. Ia menekuni banyak pekerjaan, mulai dari, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit. Ia adalah pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage. Ia lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938  dan meninggal di Magelang, 29 Juli 2020 pada umur 82 tahun. Ajip Rosidi lebih dikenal sebagai adalah sastrawan Indonesia. Ia memperoleh banyak penghargaan, di antaranya dalam Kongres Kebudayaan tahun 1957 di Denpasar,  mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1955-1956. [irp] Pada tahun 1960 dalam Kongres  Kebudayaan di Bandung, mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk kumpulan cerita pendeknya yang berjudul  Sebuah Rumah Buat Hari Tua. Tahun-tahun Kematian merupakan buku pertamanya yang terbit ketika usianya 17 tahun 1955, diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya sekitar seratus judul Kali ini, untuk mengenang salah satu sastrawan besar Indonesia itu, Klikhijau.com akan memuat 9 puisi Aji Rosidi yang bercerita tentang alam atau tepatnya menggunakan diksi-diksi alam yang memukau  dan jadi kekuatan puisinya: [irp]
Angin Berkesiur
angin berkesiur daun pun gugur angin berkelana cintaku mengembara gadisku mawar menanti tak sabar gadis yang rindu kudekap dalam pelukan bisu 1954  
Lagu Tanah Air
1. Adalah hijau pegunungan Adalah biru lautan Adalah hijau Adalah biru Langit dan hatiku Adalah aku pucuk tatapan Adalah pucuk Adalah tatapan Adalah pucuk senapan Mengarah ke dadaku 2. Hijau pegunungan biru lautan Tiadalah harapan adalah ketakutan Hijau pegunungan biru lautan Tiadalah ketentraman adalah ancaman Adalah karena cintaku Adalah karena kucinta Langit merah jalan berdebu Rumah punah jalan terbuka 3. Bunga tumbuh mawar biru Kembang wera kembang jayanti Tanah yang kujejak rindu Kan kurangkum dalam hati [irp]
Jeram
Air beterjunan dalam jeram Buihnya memercik ke tebing tempat kami berbaring Dan ia mengelaikan kepala Dengan mata meram terpejam Atas tanganku yang mencari-cari Arah manakah burung gagak hinggap yang suaranya nyaring Memecah ketenangan hutan Sehabis hujan. Air beterjunan dalam jeram Jerom gemuruh dalam darahku Dan dalam mimpi keabadian yang nyaman Kubisikkan kata-kata bagaikan desir angin Mengeringkan keringat atas kening Sedang mataku memandang tak yakin Air berbuih yang menghilir Entah kapan 'kan tiba Di muara Air beterjunan dalam jeram Kata-kata beterjunan dari mulutku Sungai pun tahu arti muara Yang tak sia-sia menunggu. Burung gagak berteriak entah di mana Dan ia bersenandung entah mengapa Karena dalam kesesaatan tak terjawab tanya lama Yang sudah lama hanya tanya: Hingga mana? Pabila? Mau apa... ? Dan dengan jari-jari gemetar Kuyakinkan hatiku sendiri: Segalanya Berlaku percuma serta sia-sia Dan perempuan ini 'kan mati dalam kepingin Karena angin hanya angin Karena jeram beterjunan dalam diriku Yang tak mengenal musim kemarau Air beterjunan dalam jeram Dan jeram beterjunan dalam darahku. 1962 [irp]
Sungai
Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama? Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna
Tretes Malamhari
Di Tretes malamhari Semuanya jadi mati: Surabaya nun jauh di bawah Gunung Wilis terpacak sebelah kiri (Aku teringat akan leluri Ten tang Buta Locaya dan Plecing Kuning) Apakah Waktu di sini berhenti Mengendap dalam cahaya lampu pelabuhan di tepi kaki langit? Angin naik dari lembah. Bayang-bayang daun bergoyang Rumput-rumput pun berdesir. Ataukah Hanya hatiku bergetar? Kucari kau . Kucari di remang hijau. Yang mengambang di muka kolam Wajahmu ataukah bayangan bulan? Lalu kututupkan jendela. Malam lengang. Malamku yang lengang. 1968 [irp]
Mimpi Kita Siang hari
I Dalam terik sinar matahari Kulihat kau melambai: Bayang-bayangku ataukah aku sendiri Yang kaupeluk dan kaubelai? II Kebun belakang rumah, kolam ikan Anak-anak bermain, kau menyulam Menjalin helai-helai peruntungan kita Dengan benang cinta. III Dalam cahaya rembulan Kau perlahan bersenandung Meski terpisah gelombang lautan Kudengar sansai suaramu murung IV Jalan lengang panjang, Wahai! Mengarah ke batik kelam, Aduhai!  
Cinta dan Kepercayaan
Dalam hidup 'kan kupertahankan Nilai hubungan antar-manusia, didasarkan Atas cinta dan kepercayaan. 'Kan kupertahankan kehangatan Gamitan dua tangan, menyampaikan Kehangatan rasa dua jiwa. Cinta adalah bunga tumbuh Atas kesuburan tanah kasih, berakarkan Hati mau mengerti, saling membagi. Dan kepercayaan, landasan Kerelaan dan kemesraan. Pertalian dua hati. 1960 [irp]  
Matahari
Kutembus mega yang putih, yang kelabu, yang hitam sekali Di baliknya kucari yang terang : Sinar si matahari!  
Jalan Lempeng
sebuah lukisan S. Soedjojono Burung gagak, burung gagak! Biarkan dia berjalan! Biarkan dia berjalan, membungkuk pada keyakinannya Bertolak dari bumi kehidupan lampau, begitu ia melangkah Pasti dan yakin. Karena ada mimpi di balik gunung itu: Lembah hijau hidup segar. Karena di sini batu mencair Gurun mati. Tandus dan sepi. Burung gagak, biarkan dia berjalan. Di ruas-ruas langkahnya Menyala dendam pada bumi lampau. Di dadanya padat kesumat Pada dunia kehidupan yang mati di sini. Burung gagak, sampaikan salamku padanya. Salam bagi Yang sudah melangkah atas keyakinan. Salam bagi Yang sudah berani bikin perhitungan tandas sekali. Gunung-gunung yang membatu, gersang dan kering, kan takluk pada tapaknya. Satu demi satu kan dilewatinya. Ia terjang dunia mati. Burung gagak, kini ia berjalan. Melangkah dengan gagah Ia tahu di balik gunung ada mimpi, ada lembah Tidak cair meleleh seperti bumi yang menggolak ini. Semua kan tunduk kepadaNya. Semua kan menyerah pada langkahnya. Karena ia berjalan Atas keyakinan. Biarkan dia berjalan! Gunung dari lembah sana, gaung dari mimpi diri. Burung gagak, ia dengar nyanyi itu. Dan ia menuju ke situ. Pohon-pohon mati dan sepi. Padang pun mati dan sepi. Batu-batu mencongak ngeri, tajam dan mengancam. Tapi ia melangkah menuju lembah-lembah mimpi. Ia sendirian. Batu-batu dan alam geram. Gunung mendinding di ujung. Langit pun kan menerkam. Dan ia melangkah dengan pasti: Batu cair jadi beku. Langit pun jadi membiru, mengucapkan selamat jalan Menempuh kehidupan. Burung gagak, burung gagak, biarkan dia berjalan Sampaikan salam yang erat dan hangat. Ia yang yakin Ada mimpi di balik gunung batu, ada lembah hijau dan lembut Kehidupan tenang, sawah-ladang, padang rumput.... Jangan kauganggu! 1955 Nah, itulah 9 puisi Ajip Rosidi yang menggunakan diksi alam yang memukau. Selamat jalan Sastrawan, karyamu tetap abadi. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisiNya. [irp]
Topik terkait
#ajip rosidi #sastrawan indonesia #puisi ajip rosidi #mengenang ajip rosidi