Mengatur Hujan

Entah karena ia sudah begitu lama tinggal di sebuah desa yang dinginnya jauh lebih banyak dari panasnya, atau karena sebab lain—yang jelas Buyung selalu merindukan hujan. Paling tidak, hujan bisa m...

Mengatur Hujan
Bacakan Artikel

Entah karena ia sudah begitu lama tinggal di sebuah desa yang dinginnya jauh lebih banyak dari panasnya, atau karena sebab lain—yang jelas Buyung selalu merindukan hujan.

Paling tidak, hujan bisa menyirami sepetak lahannya yang gersang dari tiga bulan lalu. Atau curahan air hujan itu bisa sedikit membuat pekarangan rumahnya bebas dari debu. Debu yang kadang berkunjung ke matanya jika angin berembus sangat kencang. Membuatnya perih dan memerah.

Desa yang ia tempati sekarang ini memang terasa sangat panas, itu terjadi setelah penebangan pohon peneduh pinggir jalan demi pelebaran jalan. Matahari terasa begitu menyengat, seakan ingin membakar kulit hingga terpanggang kering.

"Aku ingin hujan turun tiap hari." Katanya kepadaku suatu hari.

"Tiap hari?"

"Ya, tiap hari. Biar udara di sini tidak terlalu sepanas ini."

"Tapi, mungkin banyak yang tidak setuju."

"Kenapa?"

"Di mana-mana akan terjadi banjir. Termasuk di rumahku."

"Oi, kalau hujannya tidak terlalu lebat, sekelebat lalu, gimana?"

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2