Memperkuat Bank Sampah demi Memenuhi Kebutuhan Bahan Baku Industri Domestik

Klikhijau.com - Di masa pandemi Covid 19, kegiatan ekonomi dalam pengelolaan sampah merupakan salah satu kegiatan yang terbukti tahan banting. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Samp...

Memperkuat Bank Sampah demi Memenuhi Kebutuhan Bahan Baku Industri Domestik
Bacakan Artikel

Pada pertemuan terbatas tersebut, hampir semua pengelola bank sampah mengaku mengalami penurunan omset selama pandemi. Hal ini disebabkan oleh semakin berkurangnya warga yang menabung sampah.

[caption id="attachment_21003" align="alignnone" width="620"]kelembagaan bank sampah Dirjen PSLB3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati saat rapat terbatas dengan Pengelola Bank Sampah di Makassar[/caption]

“Omset kami turun sampai di atas 50 persen. Tapi, kami tetap jalan,” kata Akram seorang pengelola bank sampah di Bilangan Toddopuli Kota Makassar.

Penguatan kelembagaan bank sampah

Dirjen PSLB3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati menuturkan bahwa pihaknya sedang mendorong upaya penguatan kelembagaan bank sampah.

“Di sisi kebijakan pada saat ini KLHK sedang melakukan revisi terhadap Permen LHK Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan 3R melalui Bank Sampah. Ini untuk mengoptimalkan kelembagaan Bank Sampah melalui pembentukan Bank Sampah Unit dan Bank Sampah Induk. Serta menekankan fungsi Bank Sampah Induk sebagai sarana edukasi, perubahan perilaku masyarakat dan circular economy,” katanya.

Pada revisi permen ini juga, tambah Vivien, ditekankan perlunya dukungan pendanaan bank sampah oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat.

Perkembangan selanjutnya yang erat kaitannya dengan bank sampah yaitu terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) nomor 482/2020 pada tanggal 27 Mei 2020 tentang Pelaksanaan Impor Limbah Non B3 sebagai Bahan Baku Industri antara Kementerian LHK, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kepolisian RI.

SKB ini diharapkan secara langsung akan mendorong bank sampah untuk lebih meningkatkan kinerjanya dalam pengumpulan dan pemilahan sampah di sumber.

Dengan demikian akan meningkatkan kemampuan bank sampah dalam bahan baku daur ulang dalam negeri khususnya plastik dan kertas.

Kebutuhan bahan baku kertas dan plastik tinggi

Tingginya kebutuhan kertas dan plastik serta keterbatasan ketersediaan bahan baku daur ulang dalam negeri mendorong tingginya impor plastik dan kertas.

Padahal, bahan baku industri daur ulang plastik dan kertas banyak tersedia di Indonesia dalam bentuk sampah yang belum dimanfaatkan dengan benar.

Jika saja,  dapat dipahami bahwa sesungguhnya sampah merupakan bahan baku industri plastik dan kertas, maka impor dari luar negeri akan dapat ditekan tanpa mengorbankan industri daur ulang plastik dan kertas dalam negeri.

Perlu kita ketahui bersama, sampah plastik yang mampu dimanfaatkan baru mencapai 45,9%, sisanya belum dimanfaatkan.

Adapun kemampuan daur ulang plastik tahun 2019 baru mencapai 7%. Bank Sampah, meskipun baru memberikan kontribusi bahan baku sekitar 2,7% saja. Namun mampu menyediakan kualitas plastik paska konsumsi yang jauh lebih baik.

Adapun untuk sampah kertas baru mampu dimanfaatkan sebesar 56%, sisanya belum dimanfaatkan.

Adapun kemampuan daur ulang kertas tahun 2019 baru mencapai 12%. Berdasarkan perhitungan survei dan kajian diketahui bahwa kontribusi bank sampah sebagai pemasok bahan baku daur ulang kertas baru mencapai 1%.

Pemasok bahan baku daur ulang terbesar plastik dan kertas justru diperoleh dari sektor informal pemulung, yang mencapai sekitar 80%. Untuk itu, bank sampah dituntut lebih berdaya dan berkinerja lebih baik lagi, termasuk di masa pandemi ini.

“Saya berharap pengelola bank sampah dapat terus konsisten bekerja di masa pandemi dan meningkatkan kemampuan bank sampah dalam penyediaan bahan baku daur ulang dengan tetap mengutamakan protokol Kesehatan,” pungkas Vivien.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2