Membumikan Pesan Puasa Ramadan

Klikhijau.com - Berdebar-debar, disaat menatap lelehan es batu. Sekaligus memblurkan warna merah syrup yang bagai menari-nari di atas Pallu Butung. Begitulah sketsa petang, yang dilukiskan seorang...

Membumikan Pesan Puasa Ramadan
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Klikhijau.com - Berdebar-debar, disaat menatap lelehan es batu. Sekaligus memblurkan warna merah syrup yang bagai menari-nari di atas Pallu Butung.

Begitulah sketsa petang, yang dilukiskan seorang kawan dalam dekapan waktu berbuka. Detik detik penantian waktu saat berbuka, waktu dan menu berbuka dipenuhi kebisuan.

Kuasa menatap sajian takjil serasa mengalir ke ujung lidah. Sehingga membingkai penantian waktu berbuka dan ruang kerongkongan saling merindu.

Di hadapan menu berbuka puasa, manusia telah menjadi 'raja' selama sebulan di bulan Ramadan. Karena Ramadan itu sendiri, rajanya seluruh bulan.

Dalam ajaran Islam, ibadah puasa Ramadan menempati posisi penting, karena disebut secara jelas di dalam Alquran (al-Baqarah [2]: 183-188).

Sejak awal puasa dipahami sebagai ibadah ritual yang disesaki oleh pembahasan-pembahasan ritual puasa yang selalu diulang-ulang setiap tahunnya.

Pemaknaan ibadah puasa Ramadan harus juga diasah pada nilai transformatifnya. Ini bermakna untuk meretas persoalan-persoalan sosial dan ekologis yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Bukankah, keberadaan manusia sebagai makhluk dalam ruang dan waktu akibat dari iradah Allah SWT sebagai Khaliq. Secara kronologis memperlihatkan sistematika penciptaan manusia dan makhluk lain, berlangsung alami dalam nuansa ekosistem.

Sebagai kesatuan pranata kehidupan ekosistem itu, maka manusia sebagai salah satu ciptaan-Nya diberi hak previllage oleh Allah SWT untuk mengakomodasi interdependensi makhluk ciptaan-Nya berdasarkan legitimasi predikat khalifatan fil ardh yang disandangnya.

Boleh saja kaum environmentalist menggaungkan perlunya mempraktekkan etika terhadap alam. Namun umat islam sejatinya telah punya pemahaman yang jauh melewati itu. Tugas sebagai khalifah itu sungguh berat dan menggetarkan. Kita serasa memanggul sebagian otoritas ilahiah di muka bumi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2