Membumikan Pesan Puasa Ramadan

Klikhijau.com - Berdebar-debar, disaat menatap lelehan es batu. Sekaligus memblurkan warna merah syrup yang bagai menari-nari di atas Pallu Butung. Begitulah sketsa petang, yang dilukiskan seorang...

Membumikan Pesan Puasa Ramadan
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Namun manusia sebagai makhluk Tuhan, tidak punya kuasa atas ruang dan waktu. Di atas bumi, alam menjalani hukum keseimbangan. Deretan panjang bencara hadir silih berganti  Gempa, tanah longsor, dan banjir menjadi fakta bersama musim air yang menghujani bumi.

Fenomena yang terjadi di atas menyadarkan manusia yang tak mampu melindungi diri dan lingkungannya dari ancaman alam. Krisis lingkungan hidup di atas muka bumi, menjadi gambaran krisis spiritual paling dalam yang pernah melanda umat manusia.

[caption id="attachment_20469" align="alignnone" width="504"]puasa ramadan Ilustrasi menjelang senja hari - Foto/Ist[/caption]

Akibat mendewakan humanisme yang memutlakkan manusia terhadap alam. Sehingga terjadilah pemerkosaan alam yang mengatasnamakan hak prioritas manusia.

Refleksi Hari Bumi (22/4) kali ini menemukan pijakan sakral di bulan suci Ramadhan. Ia menjadi momentum evaluasi dan instrospeksi diri. Ia menjadi cermin untuk memahami peristiwa alam di tengah hantaman musibah kali ini.

Apakah ini berarti terlalu banyak harapan yang dilekatkan pada manusia ?

Menanam kebaikan di bumi menjadi satu spirit puasa Ramadhan. Suasana itu terilhami di berbagai situasi dan kondisi. Betapa banyak orang-orang bersahaja yang boleh jadi tidak ada di front terdepan dalam amal-amal kebaikan. Mereka hanya ada di sudut ruangan, mereka mengamati saja, tetapi merekalah yang menyediakan segala sesuatunya agar orang lain dapat beramal kebaikan itu dengan sempurna.

Ketika Osman Bakar meyakini bahwa hukum keseimbangan antar manusia adalah sebuah anugerah Tuhan yang paling besar sehingga mampu menghindarkan alam semesta dari kehancurannya.

Kita juga bisa menyaksikan dalam berbagai situasi sulit, banyak individu atau anggota kelompok, yang dengan rela mengorbankan waktu dan spiritnya demi tercapainya tujuan dengan penuh kerelaan hati tanpa tekanan.

Apa pun posisi kita, sekalipun kita berada dalam situasi memberi nafkah, kita bisa belajar untuk mengundang kemurahan hati orang lain. Kita sebenarnya bisa mengganti mindset dengan berpikir bahwa kita sedang dikelilingi para pelaku kebajikan.

Di sisi lain, kita bisa berlatih lebih banyak membuat request daripada memerintah. Kita perlu meyakini bahwa membangun hubungan penuh rasa percaya lebih powerful daripada membuat hierarki dan struktur politik. Secara otomatis, kerendahan hati justru menciptakan power dalam bentuk lain.

Tak ada yang salah menjadi manusia yang lebih dikenal langit, daripada manusia yang dikenal oleh bumi. Manusia yang harum namanya di hati banyak manusia lain, bukan manusia yang harum dalam peristiwa-peristiwa sejarah.

Dan diujung ikhtiar kita tinggal menyerahkan diri. Jika tak sekuat hujan yang menyatukan langit dan bumi, jadilah selembut doa yang menyatukan harapan dan takdir.

Wallahu a'lam.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2