Memahami Bumi Sebagai Rahim Ibu

[hujau]Tak akan ada ibu bumi kedua, bila ibu bumi telah tiada[/hujau] Demikian petikan lirik lagu bernas yang dilantunkan oleh sebuah band “The Green Grunge Gentlemen”, Navicula. Lagu berjudul Ibu...

Memahami Bumi Sebagai Rahim Ibu
Bacakan Artikel

[hujau]Tak akan ada ibu bumi kedua, bila ibu bumi telah tiada[/hujau]

Demikian petikan lirik lagu bernas yang dilantunkan oleh sebuah band “The Green Grunge Gentlemen”, Navicula. Lagu berjudul Ibu ini seolah membuka mata, mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga bumi agar tetap lestari dan mendudukannya sebagai kerahiman dengan penuh cinta kasih.

Bumi, dalam kosmologi timur dipahami berdasarkan konsep feminin di mana terdapat hubungan dialektis yang saling melengkapi satu sama lain.

Misalnya hubungan antara penciptaan dan pengrusakan, penyatuan dan pemisahan menjadi siklus pergerakan alam semesta yang sifatnya dinamis. Vandana Shiva (1988), menyatakan dalam filsafat India terdapat Prakriti (alam) dan Purusha (manusia). Hubungan antara keduanya harus saling memelihara.

Hal ini berbeda dengan pandangan Barat terutama pasca pencerahan dan revolusi industri terjadi. Mereka memosisikan antara kedua entitas tersebut terpisah, bahkan salah satunya ada yang mendominasi.

Pandangan yang kontradiktif antara keduanya dipenuhi dengan dualisme dan pendikotomian. Pandangan yang menempatkan bumi sebagai subordinasi kekuasaan manusia menjadikannya sebagai obyek eksploitasi semena-mena.

Bumi dikeruk dengan serampangan sehingga muncullah krisis ekologi yang dewasa ini justru semakin menggurita. Developmentalisme-lah yang disebut-sebut sebagai biang terjadinya krisis ini.

Sejak revolusi industri, pembangunan sudah mengabaikan bumi sebagai terra mater (baca: Ibu Pertiwi, di Hindu disebut Dewi Bhumi, di Yunani disebut Dewi Gaia) dan mengubah kedudukannya menjadi ceruk yang bisa dieksploitasi dan dijarah dengan begitu ganas.

Paradigma pembangunan yang antroposentris sudah barang tentu mengelola sumber daya alam sebagai komoditi yang mementingkan nilai tukar dan nilai tambah.

Demikianlah kapitalisme bekerja. ia berhasrat untuk mengeruk, mengeksploitasi secara besar-besaran dan alam terus menerus menanggung derita demi profit yang ingin diraih para pemodal.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2