Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Meresapi 6 Puisi Taufiq Ismail yang Beraroma Alam

Klikhijau.com - Puisi Taufiq Ismail harus diakui sarat makna dan pesan moral. Bahkan mendengan namanya saja.  Ingatan kita akan tertuju pada puisi-puisi religi dan kritis. Puisi-puisi dari lelaki k...

Oleh Tim Redaksi 15 Aug 2021 01:38 5 menit baca
Klikhijau.com - Puisi Taufiq Ismail harus diakui sarat makna dan pesan moral. Bahkan mendengan namanya saja.  Ingatan kita akan tertuju pada puisi-puisi religi dan kritis. Puisi-puisi dari lelaki kelahiran 25 Juni 1935  di Bukittinggi, Sumatra Barat itu, memang terkenal dengan puisi religinya. Namun di balik itu, puisi-puisinya pun sangat kritis menyoroti keadaan Indonesia.  Iya, ia selalu datang mengingatkan kita kepada Tuhan, dan beberapa puisinya menghentak kesadaran kita tentang keindahan alam dan juga bencana alam yang bersetia mengintai. Ini beberapa puisi Taufiq Ismail yang beraroma alam: [irp]  
Kerendahan Hati
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin Yang tegak di puncak bukit Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, Yang tumbuh di tepi danau Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang Memperkuat tanggul pinggiran jalan Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya Jadilah saja jalan kecil, Tetapi jalan setapak yang Membawa orang ke mata air Tidaklah semua menjadi kapten Tentu harus ada awak kapalnya…. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi Rendahnya nilai dirimu Jadilah saja dirimu…. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri  
Membaca Tanda-Tanda
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan dan meluncur lewat sela-sela jari kita Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas tapi kita kini mulai merindukannya Kita saksikan udara abu-abu warnanya Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari Hutan kehilangan ranting Ranting kehilangan daun Daun kehilangan dahan Dahan kehilangan hutan Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru Kita saksikan Gunung membawa abu Abu membawa batu Batu membawa lindu Lindu membawa longsor Longsor membawa air Air membawa banjir Banjir air mata Kita telah saksikan seribu tanda-tanda Bisakah kita membaca tanda-tanda? Allah Kami telah membaca gempa Kami telah disapu banjir Kami telah dihalau api dan hama Kami telah dihujani api dan batu Allah Ampunilah dosa-dosa kami Beri kami kearifan membaca tanda-tanda Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan akan meluncur lewat sela-sela jari Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas tapi kini kami mulai merindukannya  
Silhuet
Gerimis telah menangis Di atas bumi yang lelah Angin jalanan yang panjang Tak ada rumah. KIta tak berumah Kita hanya bayang-bayang Gerimis telah menangis Di atas bumi yang letih Di atas jasad yang pedih Kita lapar. Kita amat lapar Bayang-bayang yang lapar Gerimis telah menangis Di atas bumi yang sepi Sehabis pawai genderang Angin jalanan yang panjang Menyusup-nyusup Menusuk-nusuk Bayang-bayang berjuta Berjuta bayang-bayang Di bawah bayangan pilar Di bawah bayangan emas Berjuta bayang-bayang Menangisi gerimis Menangisi gunung api Kabut yang ungu Membelai perlahan Hutan-hutan Di selatan. 1965 [irp]
Bukit Biru, Bukit Kelu
Adalah hujan dalam kabut yang ungu Turun sepanjang gunung dan bukit biru Ketika kota cahay dan di mana bertemu Awan putih yang menghinggapi cemaraku Adalah kemarau dalam sengangar berdebu Turun sepanjang gunung dan bukit kelu Ketika kota tak bicara dan terpaku Gunung api dan hama di ladang-ladangku Lereng-lereng senja Pernah menyinar merah kesumba Padang hilalang dan bukit membatu Tanah airku 1965  
Ketika Burung Merpati Sore Melayang
Langit akhlak telah roboh di atas negeri Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri Karena hukum tak tegak, semua jadi begini Negeriku sesak adegan tipu-menipu Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan Berjuta belalang menyerang lahan pertanian Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri Kukenangkan tahun?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri Seluruh korban empat tahun revolusi Dengan Mei? 98 jauh beda, jauh kalah ngeri Aku termangu mengenang ini Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri Ada burung merpati sore melayang Adakah desingnya kau dengar sekarang Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu? Ada burung merpati sore melayang Adakah desingnya kau dengar sekarang 1998
Pantun Terang Bulan di Midwest
Sebuah bulan sempurna Bersinar agak merah Lingkarannya di sana Awan menggaris bawah Sungai Mississippi Lebar dan keruh Bunyi-bunyi sepi Amat gemuruh Ladang-ladang jagung Rawa-rawa dukana Serangga mendengung Sampaikah suara Cuaca musim gugur Bukit membisu Asap yang hancur Biru abu-abu Danau yang di sana Seribu burung belibis Lereng pohon pina Angin pun gerimis 1971 Sebenarnta masih banyak puisi Taufiq Ismail yang beraroma alam, namun pada kesempatan kali ini, cukup puisi-puisi di atas yang disiarkan. Nantikan kelanjutannya! [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #puisi alam #sastra dan lingkungan #taufik ismail #puisi taufik ismail #pesan moral puisi