Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Melirik 7 Lagu Rhoma Irama dengan Pesan Lingkungan yang Menggugah

Klikhijau.com – Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama telah menciptkan ribuan lagu. Pria yang lahir pada hari Rabu tanggal 11 Desember 1946 itu tak bisa dipisahkan dari musik dangdut. Rhoma Irama diyakini...

Oleh Tim Redaksi 27 May 2021 00:46 6 menit baca
Klikhijau.com – Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama telah menciptkan ribuan lagu. Pria yang lahir pada hari Rabu tanggal 11 Desember 1946 itu tak bisa dipisahkan dari musik dangdut. Rhoma Irama diyakini sebagai pelopor musik atau lagu dangdut itu sendiri, yang kemudian menjadi musik asli Indonesia. Kegigihan Rhoma memperjuangkan musik dangdut patut diacungi jempol. Pria asal Tasikmalaya itu menjadikan musik dangdut sebagai media dakwa—yang saat awalnya dianggap tabu. Rhoma tak hanya menyanyi saja, tapi ia juga merupakan pencipta lagu dengan lirik yang romantis, dan juga penuh kritik yang sarat akan pesan moral. [irp] Di antara banyak lagu ciptaannya, tak sedikit yang mengandung diksi-diksi alam yang digubah dengan cara yang romantis. Bahkan ada pula yang penuh dengan kritikan, yang membuat pendengarnya merenung. Pada kesempatan kali ini, klikhijau.com akan memuat 7 lagu Rhoma Irama dengan pesan lingkungan yang menggugah, yaitu:
Anak Kera

Seekor anak kera Yang nakal tetapi sangat jenaka Pergi ke tepi pantai Tujuannya untuk bermain-main Ia pergi sendirian tanpa setahu induknya

Setelah puas bermain ia pun ingin pulang Tapi malang nasibnya ia tak tahu ke mana Menangislah akhirnya menyesali dirinya

Untuk ketika itu Lalu di sana seorang nelayan Anak kera jenaka Kemudian dibawanya bersama Dibawa ke dalam hutan tempat asalnya semula

Lagu di atas pertama dirilis pada tahun 1971. Pada lagu itu, kita akan menemukan pesan yang menggugah bahwa tempat terbaik bagi anak kera adalah hutan. Kita juga patut belajar dari nelayan yang menolong anak kera tersebut. Si nelayan tak mengambil anak kera itu untuk dipelihara, juga ia tak membunuhnya, tapi menyelamatkannya—membawanya ke habitat aslinya. Di saat perdagangan satwa liar kian marak, lagu ini bisa jadi renungan sekaligus tamparan bagi pelaku perdagangan liar satwa.
Anjing dan Sampah

Kaupalingkan muka bila ‘ku memandang Kaupercikkan ludah bila ‘ku menyapa Begitu tega kaupatahkan hatiku Begitu tega kauhinakan diriku ‘Ku tahu diriku memang tak berharga Tetapi janganlah kaupercikkan ludah

Anjing lebih mulia dalam pandanganmu Hingga kauanggap aku sampah yang berbau Kalau engkau tak sudi jangan begitu caramu Sungguh penghinaanmu menyakiti hatiku

Cantiknya dirimu memang tak terkata Indahnya tubuhmu memang tiada tara Tapi betapa rendah budimu Tapi betapa buruk benar akhlakmu Jikalau begitu budi pekertimu Tiada berarti hai kecantikanmu

Lagu ini mengisahkan seseorang yang dianggap hina, bahkan anjing lebih berharga dari dirinya. Diksi anjing yang digunakan Rhoma rasanya memang tepat. Karena tak sedikit orang yang lebih menyayangi anjing peliharaannya dari pada orang lain. Anjing merupakan satwa yang jinak dan banyak dipelihara. Ia dianggap sebagai teman setia manusia. Bahkan ada beberapa film yang mengangkat kisah kesetian anjing. Sedangkan sampah, kita semua tahu, sampah merupakan masalah yang telah menggorogoti dunia ini. Ia dianggap menjijikkan, tapi tetap diproduksi oleh manusia. [irp]
Bencana

Masih perlukah air mata Untuk menangisi dunia Yang selalu dilanda bencana Macam-macam malapetaka

Gempa bumi banjir badai topan Yang selalu membawa korban Dan juga ganasnya peperangan Yang menghantui kehidupan

Seakan-akan di dunia Tiada lagi keamanan Seakan-akan di dunia Tiada lagi ketenteraman

Apakah ini akibat kesombongan manusia Karena sudah merasa menundukkan semesta Agama cuma di lisan tak lagi diamalkan Keimanan pada Tuhan cuma berupa slogan

Bencana, judul yang dipilih Rhoma untuk lagunya ini memang singkat. Tapi isinya sangat padat sebagai renungan bahwa sifat kesombongan manusia bisa membawa bencana. Di Indonesia sendiri, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang bencana alam. Lagu ini bisa jadi pengingat bahwa sifat sombong, dengan menganggap diri bisa menundukkan alam dapat membawa bencana alam berupa banjir, gempa dan tanah longsor.
Di Tepi Pantai ( FT Lata Mangeshkar )

Di tepi pantai cinta bersemi Ombak putih menari menjadi saksi O, di tepi pantai

Pasir yang putih warna cintaku Gemuruh ombak detak jantungku Hembusan angin bisik jiwaku

O, hati terpadu sudah di dalam cinta

Meski singat saja, lagu ini mengandung diksi alam yang kuat. Lagu ini juga mengingatkan bahwa perasaan suka dan cinta seseorang bisa diwakili oleh fenomena alam yang terjadi. Lihatlah lirik Pasir yang putih warna cintaku/Gemuruh ombak detak jantungku/Hembusan angin bisik jiwaku
Kemarau

Setahun sudah tak turun hujan Bumi kering menangis retak Tiada daun walau sepucuk Tiada air walau setetes

Bagaikan musafir yang haus Di tengah gurun sahara

Panas terik sang matahari Bagai akan membakar bumi Begitulah bumi yang kering Menanti hujan menyirami

Insan dan hewan turut bersedih Pohon layu kering dan mati Kering dilanda musim kemarau Yang seakan tak mau berhenti Oh Tuhan berikan rahmat-Mu Agar kemarau berlalu

Kedatangan kemarau, selain disambut suka cita, juga disamput dengan duka lara. Itu karena seperti lagu di atas. Kemarau bisa membuat bumi kering dan daun-daun tak tumbuh. Kemarau yang panjang bisa membawa bencana ekologis yang serius, semisal kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi setiap kemarau datang. [irp]
Malapetaka

Tiap malapetaka di dalam dunia Semua itu karena ulah manusia Mengapa banjir melanda membawa bencana Mengapa topan melanda membawa bencana Tanyakan dirimu Siapa yang mendatangkan banjir yang melanda Siapa yang mendatangkan topan yang melanda Itulah Tuhanmu

Bila ada kedhaliman atas suatu bangsa Murka Tuhan pasti datang sebagai pembalasan Banyak sudah bangsa-bangsa yang dihancurkan Tuhan Sebaiknya itu semua dijadikan pedoman

Tiap malapetaka di dalam dunia Semua itu karena ulah manusia Mengapa hama melanda merusak tanaman Mengapa gempa melanda dan membawa korban Tanyakan dirimu Siapa yang mendatangkan hama yang melanda Siapa yang menciptakan gempa yang melanda Itulah Tuhanmu

Lagu ini menceritakan bahwa malapetaka yang datang menimpa, tak lepas dari andil manusia. Rhoma mengajak kita bertanya pada diri sendiri, mengapa bencana tak pernah berhenti menimpa manusia. Banyak pesan yang bisa dipetik dari lagu ini, di antaranya agar kita bisa puasa untuk merusak alam, karena merusak alam tidak membawa kebaikan, tapi membawa malapetaka.
Mata Air dan Air Mata

Panas sungguh menyengat Bagai membakar bumi ini Resah berjuta insan Di dalam menanti turunnya hujan

Jerit lapar menggema Ratap dan tangisan serta doa Tiada putus terucap Dari segelintir orang beriman

Air mata pun mengalir Mata air yang mengering Tandus-gersang bumi ini Tiada air setetes

Air mata pun mengalir Mata air yang mengering Tandus-gersang bumi ini Tiada air setetes

Tuhan, dosa apakah kiranya Hingga Kaumurkai semua Adzab pedih-Mu yang menggoncangkan hati

Tuhan, hanya pada-Mu kami Memohon pertolongan Limpahkanlah semua rasa kasih-sayang-Mu

Tuhan, kabulkan doa kami Biarkan kemarau berlalu pergi

Lagu ini, mirip dengan lagu kemarau. Bencana yang dihadirkan kemarau yang panjang memang tidak ringan.

Kemarau akan menyebabkan mata air berhenti mengalir, tapi air mata akan membanjir. Merusak alam bisa menjadi salah satu penyebab kedatangan kemarau dan terjadinya kekeringan yang membuat mata air berhenti mengalirkan airnya. Nah, itulah 7 lirik lagu Rhoma Irama dengan pesan lingkungan yang menggugah, semoga kita semua tergugah!. [irp]
Topik terkait
#pesan lingkungan #rhoma irama #musik dangdut #lagu dangdut #lagu rhoma irama #lirik lagu dangdut