Melirik 7 Lagu Rhoma Irama dengan Pesan Lingkungan yang Menggugah

Klikhijau.com – Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama telah menciptkan ribuan lagu. Pria yang lahir pada hari Rabu tanggal 11 Desember 1946 itu tak bisa dipisahkan dari musik dangdut. Rhoma Irama diyakini...

Melirik 7 Lagu Rhoma Irama dengan Pesan Lingkungan yang Menggugah
Bacakan Artikel
Klikhijau.com – Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama telah menciptkan ribuan lagu. Pria yang lahir pada hari Rabu tanggal 11 Desember 1946 itu tak bisa dipisahkan dari musik dangdut. Rhoma Irama diyakini sebagai pelopor musik atau lagu dangdut itu sendiri, yang kemudian menjadi musik asli Indonesia. Kegigihan Rhoma memperjuangkan musik dangdut patut diacungi jempol. Pria asal Tasikmalaya itu menjadikan musik dangdut sebagai media dakwa—yang saat awalnya dianggap tabu. Rhoma tak hanya menyanyi saja, tapi ia juga merupakan pencipta lagu dengan lirik yang romantis, dan juga penuh kritik yang sarat akan pesan moral. Di antara banyak lagu ciptaannya, tak sedikit yang mengandung diksi-diksi alam yang digubah dengan cara yang romantis. Bahkan ada pula yang penuh dengan kritikan, yang membuat pendengarnya merenung. Pada kesempatan kali ini, klikhijau.com akan memuat 7 lagu Rhoma Irama dengan pesan lingkungan yang menggugah, yaitu:
Anak Kera

Seekor anak kera Yang nakal tetapi sangat jenaka Pergi ke tepi pantai Tujuannya untuk bermain-main Ia pergi sendirian tanpa setahu induknya

Setelah puas bermain ia pun ingin pulang Tapi malang nasibnya ia tak tahu ke mana Menangislah akhirnya menyesali dirinya

Untuk ketika itu Lalu di sana seorang nelayan Anak kera jenaka Kemudian dibawanya bersama Dibawa ke dalam hutan tempat asalnya semula

Lagu di atas pertama dirilis pada tahun 1971. Pada lagu itu, kita akan menemukan pesan yang menggugah bahwa tempat terbaik bagi anak kera adalah hutan. Kita juga patut belajar dari nelayan yang menolong anak kera tersebut. Si nelayan tak mengambil anak kera itu untuk dipelihara, juga ia tak membunuhnya, tapi menyelamatkannya—membawanya ke habitat aslinya. Di saat perdagangan satwa liar kian marak, lagu ini bisa jadi renungan sekaligus tamparan bagi pelaku perdagangan liar satwa.
Anjing dan Sampah

Kaupalingkan muka bila ‘ku memandang Kaupercikkan ludah bila ‘ku menyapa Begitu tega kaupatahkan hatiku Begitu tega kauhinakan diriku ‘Ku tahu diriku memang tak berharga Tetapi janganlah kaupercikkan ludah

Anjing lebih mulia dalam pandanganmu Hingga kauanggap aku sampah yang berbau Kalau engkau tak sudi jangan begitu caramu Sungguh penghinaanmu menyakiti hatiku

Cantiknya dirimu memang tak terkata Indahnya tubuhmu memang tiada tara Tapi betapa rendah budimu Tapi betapa buruk benar akhlakmu Jikalau begitu budi pekertimu Tiada berarti hai kecantikanmu

Lagu ini mengisahkan seseorang yang dianggap hina, bahkan anjing lebih berharga dari dirinya. Diksi anjing yang digunakan Rhoma rasanya memang tepat. Karena tak sedikit orang yang lebih menyayangi anjing peliharaannya dari pada orang lain. Anjing merupakan satwa yang jinak dan banyak dipelihara. Ia dianggap sebagai teman setia manusia. Bahkan ada beberapa film yang mengangkat kisah kesetian anjing. Sedangkan sampah, kita semua tahu, sampah merupakan masalah yang telah menggorogoti dunia ini. Ia dianggap menjijikkan, tapi tetap diproduksi oleh manusia.
Bencana

Masih perlukah air mata Untuk menangisi dunia Yang selalu dilanda bencana Macam-macam malapetaka

Gempa bumi banjir badai topan Yang selalu membawa korban Dan juga ganasnya peperangan Yang menghantui kehidupan

Seakan-akan di dunia Tiada lagi keamanan Seakan-akan di dunia Tiada lagi ketenteraman

Apakah ini akibat kesombongan manusia Karena sudah merasa menundukkan semesta Agama cuma di lisan tak lagi diamalkan Keimanan pada Tuhan cuma berupa slogan

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2