Mata Kunang-kunang

Malam tiba. Kamu terbaring di sampingnya. Lagu Bugis terus mengalun. Terus mengalun. Menampar-nampar sepi. Meramu malam lebih eksotis. Di luar gerimis sedang menyusun rencana mengantar gigil. Daun...

Mata Kunang-kunang
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Malam tiba. Kamu terbaring di sampingnya. Lagu Bugis terus mengalun. Terus mengalun. Menampar-nampar sepi. Meramu malam lebih eksotis.

Di luar gerimis sedang menyusun rencana mengantar gigil. Daun cengkeh menari-nari riang diterpa sepoi. Jendela dibiarkan saja terbuka. Ia ingin mengajakmu melihat kunang-kunang lewat jendela. Namun, pancaran  cahaya lampu dari teras meredupkan cahaya makhluk berkelap-kelip itu.

“Padamkan saja lampu!” pintamu.

“Kenapa?” tanyanya sambil menatap keluar setelah berpindah dari menatap matamu.

“Astaga, cahaya lampu merampas cahaya kunang-kunang,”

“Dari mana kamu tahu?”

“Dari artikel,” jawabmu.

Ia ingin matamu saja

Ia bergerak ke dekat tiang tengah rumah, di mana saklar lampu bertengger manja. Tapi ia urung menekannya. Ia terpaku saat melihat gerimis tampak aduhai dalam terpaan cahaya lampu. Dan daun cengkeh menari-nari riang. Tatapannya lalu beralih ke matamu.

Ia lupa perihal kunang-kunang ketika menatap matamu, Asalna.

Padahal waktu kecil, sebelum lampu menyusup masuk ke kampung. Ketika malam masih diterangi pelita dengan bahan bakar minyak tanah. Kunang-kunang sangat mudah terlihat dari jendela rumahnya. Beterbangan indah di celah-celah daun cengkeh.

Jika malam tiba dan hujan tidak bertamu. Ia bersama tiga saudaranya senang beternak kunang-kunang. Menangkapnya, lalu memasukkannya ke buli-buli ‘botol kecil’.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2