Mata Kunang-kunang

Malam tiba. Kamu terbaring di sampingnya. Lagu Bugis terus mengalun. Terus mengalun. Menampar-nampar sepi. Meramu malam lebih eksotis. Di luar gerimis sedang menyusun rencana mengantar gigil. Daun...

Mata Kunang-kunang
Bacakan Artikel

Malam tiba. Kamu terbaring di sampingnya. Lagu Bugis terus mengalun. Terus mengalun. Menampar-nampar sepi. Meramu malam lebih eksotis.

Di luar gerimis sedang menyusun rencana mengantar gigil. Daun cengkeh menari-nari riang diterpa sepoi. Jendela dibiarkan saja terbuka. Ia ingin mengajakmu melihat kunang-kunang lewat jendela. Namun, pancaranย  cahaya lampu dari teras meredupkan cahaya makhluk berkelap-kelip itu.

โ€œPadamkan saja lampu!โ€ pintamu.

โ€œKenapa?โ€ tanyanya sambil menatap keluar setelah berpindah dari menatap matamu.

โ€œAstaga, cahaya lampu merampas cahaya kunang-kunang,โ€

[irp]

โ€œDari mana kamu tahu?โ€

โ€œDari artikel,โ€ jawabmu.

Ia ingin matamu saja

Ia bergerak ke dekat tiang tengah rumah, di mana saklar lampu bertengger manja. Tapi ia urung menekannya. Ia terpaku saat melihat gerimis tampak aduhai dalam terpaan cahaya lampu. Dan daun cengkeh menari-nari riang. Tatapannya lalu beralih ke matamu.

Ia lupa perihal kunang-kunang ketika menatap matamu, Asalna.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: