Masa Depan Penerapan Green building di Indonesia?

Klikhijau.com – Bagaimana penerapan bangunan hijau (green building) di Indonesia saat ini? Sudah cukup lama minset ini dihembuskan dengan istilah lain arsitektur hijau. Bukan tanpa alasan, permasalaha...

Masa Depan Penerapan Green building di Indonesia?
Bacakan Artikel

Katanya, isu-isu penting seperti perumahan yang terjangkau, ekonomi lokal dan lapangan kerja, masyarakat yang terbuka (terutama aspek sosial dan ekonomi) belum menjadi perhatian pada sistem penilaian bangunan hijau.

Green building sudah kebutuhan

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma) KLHK, Dr. Ir. Darhamsyah berpendapat, penerapan green building saat ini adalah sebuah keniscayaan. Khususnya di daerah perkotaan (urban). Bagaimana tidak, katanya, kawasan perkotaan kita semakin menyesakkan dari waktu ke waktu.

“Bangunan cenderung membuat manusia teralienasi (terasing) dari lingkungan hidupnya. Mereka stres, baper, melow. Itu fenomena orang yang banyak tinggal di ruang tertutup dan mengalami diconnected denganlingkungannya,” tuturnya.

Inisiator program eco office di kantor P3E Suma ini menegaskan, perlunya reformasi minset dari gedung yang serba buatan ke gedung yang serba natural. “So, jangan terlambat. Sebelum masyarakat kita sakit, mari beralih ke green building,”pesannya.

Untuk konteks Indonesia, kata Darhamsyah konsep yang tepat adalah tropical green building. “Kita kaya sinar matahari dan hembusan “angin mammiri”. Mari manfaatkan kekayaan itu dengan desain arsitektur yang cerdas,” katanya.

Darhamsyah melihat perkembangan bangunan hijau di Indonesia mulai membaik seperti di Jakarta. Namun, perlu lebih banyak lagi memasukkan kearifan lokal. “Gedung boleh bertingkat, tapi prinsip beberapa rumah adat yang mengoptimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami perlu diadopsi.

Nirwono Joga dan Yori Antar dalam bukunya “Bahasa Pohon Selamatkan Bumi” berpendapat, konsep bangunan ramah lingkungan sama dengan “hemat”. Konsep ini menekankan pada peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi dan material bangunan. Mulai dari desain, pembangunan hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan.

Paling penting, kata Yoga dan Nuri adalah penggunaan bahan bangunan yang tepat, efisien dan ramah lingkungan. Misalnya, pemakaian atap-atap bangunan yang dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof). Termasuk pemaian keramik, semen, daun jendela dan bahan lainnya.

Selain itu, Yoga dan Nuri mengusulkan perlunya pembuatan septic tank dalam setiap bangunan yang tidak mencemari lingkungan. Pengelolaan air limbah bersih dengan daur ulang air serta penggunaan panel sel surya yang dapat meringankan kebutuhan energi listrik.

“Di tengah krisis sumber bahan bakar, merencanakan dan merenovasi bangunan sudah harus diubah.  Bagaimana menghadirkan bangunan yang hemat (bahan bangunan, waktu, tenaga) yang berujung pada penghematan anggaran biaya dengan tetap menjaga kualitas dan tampilan bangunan, serta ramah lingkungan,” tulisnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2