Masa Depan dan Tantangan Baru Pendidikan Lingkungan di Sekolah

Klikhijau.com – Pendidikan lingkungan kini semakin progresif di sekolah-sekolah. Saya melihat itu saat berkunjung ke beberapa sekolah. Ada harapan besar di sana, bertumbuhnya generasi baru yang lebih...

Masa Depan dan Tantangan Baru Pendidikan Lingkungan di Sekolah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pendidikan lingkungan kini semakin progresif di sekolah-sekolah. Saya melihat itu saat berkunjung ke beberapa sekolah. Ada harapan besar di sana, bertumbuhnya generasi baru yang lebih respek pada kepentingan lingkungan.

Lihat saja, sekolah-sekolah yang halamannya rindang dengan pepohonan, tempat sampah yang memadai, daur ulang sampah dan lainnya. Sepintas, sekolah-sekolah itu seperti miniatur implementasi kehidupan yang ramah lingkungan.

Realitas semacam ini tampak di hampir setiap sekolah. Tidak saja pada sekolah di kota, tetapi juga di pelosok. Apakah ini berjalan alami karena kesadaran kuat bahwa sekolah adalah arena terbaik untuk doktrinasi peduli lingkungan? Atau jangan-jangan semata-mata karena mengejar Adiwiyata?

Rasanya tak bisa disangkal, program Adiwiyata telah berkontribusi terhadap perubahan besar di sekolah. Dahulu, sekolah yang rindang dengan pepohonan dan tanaman yang terawat hanya dibuat untuk menerapkan sekolah bersih nan indah, sejak ada Program Adiwiyata orientasinya lebih luas lagi yakni bagaimana sekolah mewujudkan lingkungan hidup berkelanjutan.

Tak lagi sekadar bersih, rindang dengan taman-tamannya yang dipersolek, sekolah juga harus menerapkan sistem pengelolaan sampah, fasilitas cuci tangan, pemanfaatan sampah plastik dan lainnya.

Pendidikan lingkungan dan kontribusi Adiwiyata

Program Adiwiyata telah membawa angin segar, walau di satu sisi juga memberi kesan sebagai satu perlombaan yang sekadar mengejar sertifikat. Terlebih, program ini menjadi satu indikator keberhasilan manajemen sebuah sekolah. Apapun itu, adiwiyata telah memberi kita harapan yang lebih baik.

Keberhasilan Program Adiwiyata diakui oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya yang menurutnya telah berkontribusi untuk mengurangi timbunan sampah melalui pengelolaan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle).

"Kontribusi sekolah Adiwiyata berupa pengurangan timbulan sampah melalui 3R sejumlah 38.475 ton per tahun, penanaman dan pemeliharaan sebanyak 322.875 pohon/tanaman, 64.575 lubang biopori, 12.915 sumur resapan dan penghematan listrik serta air antara 10%-40% per sekolah," kata Siti dikutip Gatra akhir tahun lalu.

Kini, program Adiwiyata telah berevolusi lebih paripurna setelah adanya Peraturan Menteri LHK Nomor 52 Tahun 2019 tentang Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) serta Peraturan Menteri LHK Nomor 53 Tahun 2019 tentang Penghargaan Adiwiyata.

Cakupannya lebih luas lagi yakni bagaimana mendorong sebuah aksi kolektif di sekolah agar secara sadar dan sukarela, berjejaring dan berkelanjutan menarapkan perilaku ramah lingkungan. Gerakan PBLHS juga menyelipkan satu aspek krusial yakni mendorong sekolah tanggap bencana.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2