Lewat Lukisan, Asman Djasmin Menemukan Kegembiraan dalam Simfoni Hujan

Klikhijau.com - Hujan saat ini sering kali datang tanpa penanda, namun pergi secara diam-diam. Mungkin ia malu pada matahari, segan pada mata air. Potret hujan yang datang kali ini menjadi momen yang...

Lewat Lukisan, Asman Djasmin Menemukan Kegembiraan dalam Simfoni Hujan
Bacakan Artikel

Di bagian sudut kanan atas, mata kita tertuju pada garis-garis petir yang tajam membelah kegelapan, seakan-akan langit sedang meluapkan kemarahannya. Namun, di sekeliling kilatan itu, ribuan titik kuning, biru, hijau, dan merah justru menari dengan riang, seolah mengajak sang petir untuk bermain dalam sebuah orkestra visual.

[irp]

Lewat karya ini, peristiwa hujan mengingatkan kita bahwa air kehidupan mengalir untuk semua, di hadapan alam, strata sosial manusia hanyalah ilusi. Bagi Asman, hujan bukan sekedar air yang jatuh, melainkan langit yang merindukan bumi, lalu menjatuhkan dirinya dalam jutaan cerita.

Karya ini melukiskan setiap tetes bagaikan kata yang tercecer dari puisi panjang yang ditulis awan. Ia mengajarkan kita pada makna merunduk, bahwa merendah justru cara terbaik untuk menyuburkan dunia. Ia adalah bukti, bahwa setelah penguapan kesedihan yang panjang, akan tiba saatnya segala yang terangkat harus kembali untuk menghidupi. Dan hujan adalah puncak dari siklus air abadi alam.

Karya "Simfoni Hujan" bukan sekadar rekaman visual tentang cuaca buruk, melainkan pengingat lembut bagi jiwa kita: bahwa di tengah badai kehidupan yang paling gelap dan menakutkan sekalipun, selalu ada celah untuk kegembiraan dan harapan—asalkan kita mau melihatnya.

[irp]

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: