Lewat Lukisan, Asman Djasmin Menemukan Kegembiraan dalam Simfoni Hujan

oleh -136 kali dilihat

Klikhijau.com – Hujan saat ini sering kali datang tanpa penanda, namun pergi secara diam-diam. Mungkin ia malu pada matahari, segan pada mata air. Potret hujan yang datang kali ini menjadi momen yang jernih untuk menautkan pesan alam bernama hujan dengan melibatkan imajinasi.

Hujan kali ini telah menciptakan kapsul waktu, memberi ruang bagi seniman melahirkan kreativitas dalam karya, menciptakan penanda tanpa hambatan. Meski hujan, sering kali diidentikkan dengan suasana sendu dan langit yang kelabu, namun bagi seniman Asman Djasmin, hujan adalah sumber inspirasi dan kegembiraan. Lewat citra ini Asman menemukan konsep visual dalam lukisan berjudul, “Simfoni Hujan”.

Dalam karyanya “Simfoni Hujan”, Asman membangun konsep lukisan yang memaknai hujan sebagai simbol kesetaraan dan demokrasi alam. Ia menyirami pegunungan dan selokan, menyentuh istana dan gubuk reyot, membasahi yang dicintai maupun yang terlupakan.

KLIK INI:  Simpanse Juga Mengalami Menopause?

Lukisan ini mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang filosofi hujan. Kehadiran ornamen ledakan warna kuning dan merah muda yang cerah, justru menyapa mata kita dengan penuh energi. Karya ini menyadarkan dan mengajak kita bahwa untuk merayakan badai sebagai sebuah pesta alam, bukan sebuah bencana.

Di bagian sudut kanan atas, mata kita tertuju pada garis-garis petir yang tajam membelah kegelapan, seakan-akan langit sedang meluapkan kemarahannya. Namun, di sekeliling kilatan itu, ribuan titik kuning, biru, hijau, dan merah justru menari dengan riang, seolah mengajak sang petir untuk bermain dalam sebuah orkestra visual.

KLIK INI:  Berperan Jadi Pemulung dalam Film Pendek, Seniman Ini Menuai Banyak Pujian

Lewat karya ini, peristiwa hujan mengingatkan kita bahwa air kehidupan mengalir untuk semua, di hadapan alam, strata sosial manusia hanyalah ilusi. Bagi Asman, hujan bukan sekedar air yang jatuh, melainkan langit yang merindukan bumi, lalu menjatuhkan dirinya dalam jutaan cerita.

Karya ini melukiskan setiap tetes bagaikan kata yang tercecer dari puisi panjang yang ditulis awan. Ia mengajarkan kita pada makna merunduk, bahwa merendah justru cara terbaik untuk menyuburkan dunia. Ia adalah bukti, bahwa setelah penguapan kesedihan yang panjang, akan tiba saatnya segala yang terangkat harus kembali untuk menghidupi. Dan hujan adalah puncak dari siklus air abadi alam.

Karya “Simfoni Hujan” bukan sekadar rekaman visual tentang cuaca buruk, melainkan pengingat lembut bagi jiwa kita: bahwa di tengah badai kehidupan yang paling gelap dan menakutkan sekalipun, selalu ada celah untuk kegembiraan dan harapan—asalkan kita mau melihatnya.

KLIK INI:  Achmad Fauzi, Seniman dan Kurator yang Merajut Budaya Bugis-Makassar dalam Goresan Abstrak

Hujan di musimnya, telah membawa kreativitas seniman Asman, mengalir bagaikan tetesan hujan, menciptakan kisah dan spontanitas yang indah. Asman Djasmin menemukan bahwa saat hujan adalah waktu terbaik untuk mencintai kreativitas. Hujan telah menjadi kolaborator bagi seniman dalam berkarya, membawa inspirasi dan kisahnya.

Paduan seniman dan hujan adalah kisah hidup yang indah. Ia membawa gagasan saat momen-momen tenang, introspektif, dan terkadang muram yang dibawa oleh hujan. Hujan adalah pemicu refleksi dan menjadi waktu yang paling produktif untuk lahirnya kreativitas yang mendalam dan tulus. Demi menemukan kegembiraan dalam simfoni hujan.(*)

KLIK INI:  Perihal Lahan Basah dan 8 Tumbuhan yang Bisa Tumbuh Subur di Atasnya