Kudengar Bisik Alam Memanggilmanggilku

Kudengar bisik alam memanggilmanggilku Adakah engkau mendengarnya? Hamparan langit yang pucat mengiris duka bukit bumi teteskan darah jutaan hektare tanah leluhur kebun sawah hutan belantara...

Kudengar Bisik Alam Memanggilmanggilku
Bacakan Artikel
Kudengar bisik alam memanggilmanggilku Adakah engkau mendengarnya? Hamparan langit yang pucat mengiris duka bukit bumi teteskan darah jutaan hektare tanah leluhur kebun sawah hutan belantara kepulkan asap hitam membalut wajah nusantara Lalap api mendesis bagai amarah seribu raksasa membakar masa depan anak negeriku Dengarkan desir angin terluka burung-burung tiada lagi bertengger di ranting berlumut pohon-pohon yang rindang kehilangan hijaunya sepi dari kicau pagi hari Kudengar bisik alam memanggilmanggilku Adakah engkau mendengarnya ? Di sini resah sukma terus menggeliat; Aku rindu pada cicit burung pipit di pucuk daun jambu Aku rindu kelepak bangau di bencah pematang Aku rindu nyanyian jengkrik di kelopak bunga-bunga rumput Aku rindu deram air yang buncah di celah cadas Aku rindu lenguh sapi di kandang Wak Sule Aku rindu wangi daun pandan di rambut Halimah Aku rindu sehampar halaman yang hijau menawarkan senyum purnama dan hangat cahaya tempat menabur benih cintaku pada alam

yang setiap waktu memanggil manggilku memanggil manggil ku. *

. -Blk, Juli 2019-
Penulis: Mahrus Andis, Lahir 20 September di Ponre, Gantarang, Bulukumba. Alumni Fakultas Sastra Unhas. Menulis puisi pada awal tahun 1980-an