Konflik Agraria dan Banjir Konawe Utara

Klikhijau.com - Persoalan konflik agraria di Negara ini seakan tidak pernah ada habisnya. Dari tahun ke tahun selalu memunculkan kasus sengketa lahan. Jumlah daftar konflik tersebut meliputi persoa...

Konflik Agraria dan Banjir Konawe Utara
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Persoalan konflik agraria di Negara ini seakan tidak pernah ada habisnya. Dari tahun ke tahun selalu memunculkan kasus sengketa lahan.

Jumlah daftar konflik tersebut meliputi persoalan pembangunan infrastruktur, investasi sektor property, pertanian dan sektor pertambangan.

Bertambahnya persoalan agraria menunjukan ada sebuah permasalahan terkait regulasi ataupun izin. Persoalan ini menunjukan tidak mampunya pemerintah mengatasi permasalahan agrarian.

Hal ini sejalan dengan temuan Konsersium Pembaruan Agraria (KPA) bahwa ada peningkatan konflik setiap tahun.

Tercatat pada 2017 terdapat 659 kejadian konflik agraria dengan luas 520.491,87 hektare dan melibatkan sebanyak 652.738 kepala keluarga.

Sedangkan pada 2018 ada 1.769 konflik dengan luas 807.177,613 hektare lahan konflik dan melibatkan 87.568 kepala keluarga, (KPA, CNBC Indonesia, 18 Februari 2019).

Eksploitasi sumber daya alam

Pertambangan dan perkebunan kelapa sawit merupakan sektor yang paling mendominasi di Sulawesi Tenggara.

Ada 50 izin pakai kawasan hutan untuk pertambangan pada 2018 dengan luas 43.638 hektare. Ada 81 izin usaha pertambangan terdapat di Kabupaten Konawe Utara.

Salah satu pendorong minat investasi di bumi anoa tersebut ialah melimpahnya kekayaan sumber daya alam dan suburnya kawasan perhutanan.

Maraknya penebangan hutan untuk dikonversi sebagai lahan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Secara tidak langsung kawasan hijau yang merupakan daerah resapan air ikut berkurang.

Hal ini membawa dampak buruk bagi ekosistem yang ada di dalamnya dan juga masyarakat luas. Seperti halnya banjir yang terjadi di Konawe Utara beberapa waktu lalu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2