Keprihatinan Akan Cemaran Merkuri “Berakhir” di Tangan Agus

oleh -129 kali dilihat
Keprihatinan akan Cemaran Merkuri “Berakhir” di Tangan Agus
Agus Prasetya/Foto-Dok UGM
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Semua berawal dari keprihatinan perihal masalah cemaran merkuri. Apalagi cemaran itu akibat tambang emas skala kecil dan ilegal yang dalam praktiknya itu hampir semua menggunakan merkuri.

Keprihatinan itulah yang mengantar Ir. Agus Prasetya mengembangkan penelitian terkait metode penghilangan merkuri dari dalam air dengan menggunakan bahan lokal.

Ir. Agus Prasetya merupakan dosen dan peneliti Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universita Gadja Mada (UGM).

“Penelitian ini berawal dari keprihatinan kami di grup riset tentang masalah cemaran merkuri akibat tambang emas skala kecil dan ilegal yang dalam praktiknya itu hampir semua menggunakan merkuri, dan cemaran-cemaran merkuri itu tersebar dalam limbah tambang, masuk ke air, kemudian menyebar ke mana-mana,” katanya, 20 Februari lalu seperti yang dimuat di portal UGM.

KLIK INI:  Bahaya Merkuri Bagi Warga yang Tinggal Dekat Tambang Emas

Ia juga menuturkan bahwa cemaran merkuri dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif pada anak-anak di sekitar lokasi penambangan.

Selain itu, katanya ada beberapa kasus yang sempat muncul karena merkuri, seperti kerapuhan tulang, imbisil atau keterbelakangan mental, serta bayi yang lahir tanpa tengkorak kepala.

Masalah merkuri memang mengkhawatirkan, apalagi Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pencemaran merkuri tertinggi di dunia.

Harus diakui cemaran ini mengandung segudang efek yang berbahaya bagi lingkungan maupun bagi kesehatan masyarakat.

Limbah yang mengandung merkuri dapat menimbulkan problem kesehatan pada masyarakat karena cemaran merkuri masuk ke dalam tanah dan terambil oleh tanaman, masuk ke dalam badan binatang, dan pada akhirnya masuk ke badan manusia dan terakumulasi menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Untuk mengatasi hal iru, Agus menggunakan konsep untuk remediasi merkuri dari air yang terkontaminasi oleh merkuri.

Caranya dengan mengombinasikan antara adsorpsi dengan fitoremediasi atau pengambilan merkuri oleh tanaman.

Adsorpsi dilakukan dengan menggunakan zeolit yang dikenal sebagai adsorben alami yang mempunyai kapasitas baik untuk menangkap merkuri serta tersedia melimpah di Indonesia.

Perlu uji coba lapangan

Setelah dilakukan penjerapan dengan zeolit, tahap selanjutnya dilakukan proses pengambilan sisa logam merkuri oleh tanaman.

KLIK INI:  Inspirasi Perempuan Bernama Neneng, Penjaga Indonesia dari Karhutla

“Pada penelitian ini yang kita cobakan baru melati air. Tapi terbuka kemungkinan bisa coba tanaman-tanaman yang lain,” kata Agus.

Dari penelitian yang dilakukan pada skala laboratorium, metode tersebut terbukti mampu menghilangkan 90 persen kandungan merkuri pada air yang tercemar.

Agus memaparkan bahwa yang diuji cobakan itu adalah air yang mengandung merkuri 20 ppm, dan setelah kita coba menggunakan alat yang mengombinasikan adsorbsi dan fitoremediasi keluarnya itu sudah 2 ppm. Dan setelah merkurinya tertangkap oleh zeolit dan tanaman, merkurinya tidak lepas dari zeolit, artinya itu terstabilkan.

Dengan adanya penemuan tersebut, Agus berharap dapat dikembangkan lebih lanjut dengan pengujian di skala lapangan melalui kerja sama dengan pakar dari beberapa bidang ilmu lainnya.

Menurutnya, dengan uji lapangan, akan terlihat prospek dari metode tersebut untuk dapat diterapkan di lokasi-lokasi yang telah tercemar merkuri.

“Ini teknologi yang tidak rumit sekali yang itu bisa diterapkan sebetulnya oleh masyarakat jika mereka diajari caranya,” ungkapnya seperti yang ditulis Gloria di portal UGM.

Penelitian ini sendiri telah dipublikasikan dalam salah satu jurnal ilmiah bereputasi yaitu Journal of Environmental Chemical Engineering, dengan judul “Characteristic of Hg Removal Using Zeolite Adsorption and Echinodorus palaefolius Phytoremediation in Subsurface Flow Constructed Wetland (SSF-CW) Model”.

KLIK INI:  Waspada! Zat Merkuri Beracun Mengintai Rumah Kita