Kenalkan Oreophryne Riyantoi, Katak Jenis Baru Endemik Sulawesi

Klikhijau.com – Oreophryne riyantoi merupakan nama katak yang baru ditemukan. Ia termasuk endemik Sulawesi. Katak ini ditemukan pada serasah daun hutan pegunungan. Tepatnya di Gunung Mekongga, Sula...

Kenalkan Oreophryne Riyantoi, Katak Jenis Baru Endemik Sulawesi
Bacakan Artikel

Auni menambahkan, dasar penemuan Oreophryne riyantoi didukung oleh data morfologi dan analisis filogenetik gen 16S rRNA.

Hasil penemuan menunjukkan bahwa spesies baru tersebut didiagnosis memiliki moncong bulat jika dilihat dari belakang dan samping. Gendang telinganya tidak jelas.

Sementara jarak orbit sempit. Katak ini memiliki tangan kecil, jari tangan dan kaki tidak berselaput, serta cakram terminal kecil pada jari tangan dan kaki.

Kakinya sangat pendek, terdapat bintil-bintil tidak beraturan di bagian belakang kepala, badan, dan anggota badan dengan tuberkel yang tidak teratur.

“Akhirnya, berdasarkan analisis mendalam dan sejumlah pendekatan identifikasi lainnya. Tim sepakat dan meyakini spesimen kali ini tervalidasi sebagai spesies berbeda, serta belum memiliki nama ilmiah,” ucapnya.

Wahyu dan Hellen menuturkan bahwa ada beberapa hal menarik dari katak yang baru ditemukan kali ini. Biasanya, genus Oreophryne hidup di wilayah terestrial, seperti padang rumput terbuka di dataran tinggi atau padang rumput yang didominasi pakis.

Namun yang berbeda Oreophryne riyantoi, ia ditemukan hidup di hutan pegunungan. menurut Wahyu,  dalam proses identifikasi. Tim memeriksa morfologi 50 spesimen Oreophryne Sulawesi dan mengenali spesies berbeda yang belum terdeskripsikan.

Seluruh spesimen katak tersebut dikumpulkan Wahyu pada 20 November 2011 lalu. Lokasinya di Gunung Mekongga, Pegunungan Mekongga, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

“Holotipe tersimpan di Museum Zoologicum Bogororiense (MZB), Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, dengan paratipe seekor jantan dewasa dan seekor jantan remaja,” terangnya.


Sementara itu, Amir menjelaskan, terdapat empat spesies Oreophryne endemik di Sulawesi, setelah penemuannya dipublikasikan pada 12 Oktober 2023 di jurnal Zootaxa Volume 5353 Edisi 5.

“Studi taksonomi Oreophryne dan diagnosis spesies baru telah lama terhambat, karena beberapa spesies tidak ditemukan lagi sejak pertama kali dideskripsi, sehingga sebagian besar belum dipelajari,” katanya.

Ia menambahkan bahwa, kegiatan penelitian herpetologi, termasuk survei daratan tinggi dan studi taksonomi tambahan, masih diperlukan untuk memahami sepenuhnya keanekaragaman Oreophryne dan filogeografinya di Sulawesi.

Mulai terancam

Katak mini Oreophryne mencapai keanekaragaman terbesarnya di daratan New Guinea dan pulau-pulau sekitarnya.

Genus ini juga tersebar luas ke Maluku, wilayah Wallace di Sulawesi, Kepulauan Sunda Kecil, Lombok , Sumbawa, Komodo, Rinca dan Flores, bahkan wilayah Timur Bali, dan Kepulauan Filipina bagian selatan Mindanao dan Biliran.

Secara morfologi dan ekologi, Oreophrynes beragam tetapi pada dasarnya hidup di pegunungan dan arboreal. Akibatnya, banyak spesies yang dideskripsikan mempunyai cakram jari yang membesar dan kaki belakang yang relatif panjang untuk mengakomodasi pendakian.

Sekadar informasi, hewan amfibi Sulawesi yang hidup di dataran rendah hingga pegunungan saat ini terancam akibat hilangnya habitat di pulau tersebut dan perubahan iklim global.

Oleh karena itu, eksplorasi herpetology, khususnya taksonomi tetap menjadi prioritas di daerah yang terkena dampak. Pekerjaan seperti ini juga akan mendukung upaya keanekaragaman hayati dan konservasi para pemangku kepentingan di pulau tersebut. ***

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2