Kampoeng Bambu, Sebuah Upaya Merawat Warisan Leluhur

Klikhijau.com - Semuanya berawal saat lelaki itu dari sebuah perjalanan ke Pasar Papringan, Temanggung, Jawa Tengah. Perjalanan itu membuat kepalanya disesaki ide. Ia ingin mewujudkan sebuah kampung b...

Kampoeng Bambu, Sebuah Upaya Merawat Warisan Leluhur
Bacakan Artikel

“Iya benar, ikuti saja petunjuk jalannya. Jika ragu, jangan lupa singgah bertanya pada warga,” kata lelaki paruh bayah itu.

Hari itu adalah pengalaman pertama saya akan melintasi daerah tersebut menuju Sungguminasa. Sebenarnya saya telah menggenggam informasi mengenai jalan itu dari teman saya, Nursam. Mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kec. Mallawa.

Jalan itu juga bisa tembus ke Bumi Tamalanrea Permai (BTP) dan Jalan Antang, Makassar. Selain menghindari macet dan gerah. Memilih jalan tersebut adalah upaya membunuh rasa penasaran saya.

Saya melajukan Lilan (nama motor saya) dengan kecepatan sedang, setiap ada pangka “jalan bercabang, perempatan atau pertigaan,” petunjuk arahnya jelas. Saya terus saja bergerak hingga memasuki sebuah kampung yang teduh, di kiri kanannya penuh bambu.

"Jangan-jangan bambu yang ada di Makassar berasal dari kampung ini,” batinku. Perjalanana semakin jauh dan pohon bambu pun semakin terasa luas.

Lalu belakangan saya dengar jika di sana telah ada tempat wisata baru, namanya Kampoeng Bambu. Sebuah tempat wisata alam pilihan yang baru, ramah, dan sejuk dengan hamparan sawahnya yang memesona.

Sebuah tempat memelihara ingatan  masa lalu, mulai dari suasana alam, kuliner, hingga permainan yang terbuat dari bambu.

Sayangnya, waktu saya  berusaha membunuh rasa penasaran itu. Kampoeng Bambu belum lahir. Konon, sebelum Kampoeng Bambu tercipta, Desa Toddopulia  biasa saja, bambu hanya dijual dengan cara tradisonal untuk menopang hidup warganya, nyaris tak ada yang menarik.

Masyarakatnya banyak merantau karena mengandalkan bambu dianggap kurang mencukupi. Sekarang, masyarakat bisa menatap masa depan dengan ceria, seceria gesekan daun bambu dan derit batangnya yang ditiup angin sepoi.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: