Iyakah, Kupu-kupu Asing Bertengger di Gerbang Bantimurung?

Klikhijau.com - Pernahkah ada yang bertanya: kupu-kupu jenis apakah yang menjadi ikon Kawasan Wisata Bantimurung saat ini? Terutama bagi mereka yang pernah berkunjung ke Bantimurung baru-baru ini. Ter...

Iyakah, Kupu-kupu Asing Bertengger di Gerbang Bantimurung?
Bacakan Artikel

Bagaimana dengan tampilan belakang di video? Seperti yang mereka duga sebelumnya Papilio blumei dengan kalem berada di balik machaon.

"Saya baru sadar kalau kupu-kupunya dua jenis. Lebih syok lagi saya karena machaonnya di depan gerbang," ujar Sukma prihatin.

"Sepertinya machaon menjadi kupu-kupu favorit mereka. Mungkin karena warnanya yang menarik. Sayangnya mereka tidak paham dan tidak berkonsultasi ke ahli kupu-kupu sebelumnya," tambahnya.

Akhirnya terjawab juga rasa penasaran para pemerhati kupu-kupu ini. Sayangnya mereka tak bisa berbuat apa-apa. Berharap suatu saat akan terpasang kupu-kupu asli tanah air. Lebih baik lagi jika kupu-kupunya menggambarkan Bantimurung. Jenisnya bisa kita jumpai saat berkunjung.

Agus belum puas. Ia kemudian juga menemukan bahwa sebelumnya juga pernah terpasang kupu-kupu asing, jenis Papilio glaucus di gerbang Bantimurung. Glaucus adalah kupu-kupu yang berasal dari USA bagian timur.

Sebaran papilio machaon

Terus Papilio machaon, asalnya dari mana? Papilio machaon menyebar di beberapa negara di Eropa dan Asia. Sebarannya di Eropa di antaranya: Alaska, Kanada, Austria, dan Rusia.

Di Asia sendiri mudah kita jumpai di China, Jepang, Myanmar hingga India. Kupu-kupu ini mulai langka hingga beberapa negara melindunginya. USA, Austria, dan India adalah beberapa negara di antaranya yang melindungi kupu-kupu ini.

Jika mau dianalisis sedikit bahwa antara glaucus dan machaon memiliki warna dasar sama: kuning. Warna yang menarik bagi fotografi. Mungkin mereka hanya mempertimbangkan eye catchiingnya. Apalagi di zaman media sosial seperti sekarang ini.

Saya jadi teringat sebuah tulisan di National Geografic Indonesia yang mengulas tentang kupu-kupu Bantimurung. Edisi Agustus 2018 majalah ini mengulas tuntas bagaimana memperoleh Papilio blumei dari hutan. Boleh jadi mulanya karena blumei membentang megah saat bertandang ke lanskap karst ini.

Tak tanggung-tanggung penulis Natgeo Amerika, Matthew Tetague berkolaborasi dengan fotografer Evgenia Arbugaeva menyajikan apik sebagai tajuk utama kala itu. Bahkan kupu-kupu morpo menjadi cover edisinya.

"Patung Papilio blumei – simbol kebanggaan lokal–berada di atas pintu gerbang menuju Kawasan Wisata Bantimurung," penggalan dari keterangan gambar gerbang Bantimurung dari majalah bergengsi itu. Kala itu masih bercokol blumei dengan sayap koyaknya.

Hingga kemudian di tahun yang sama, akhir 2018, gerbang tersebut berganti wajah menjadi Papilio machaon. Saya yang sehari-hari beraktivitas di wilayah ini bersyukur gerbang ini diperbaiki. Mengapa? Karena sayap kupu-kupu blumei yang rusak kala itu cukup membahayakan pengendara bahkan wisatawan kala melintas di bawahnya.

Moga ke depan pengelola kawasan wisata ini memerhatikan hal seperti ini. Tidak mengabaikan spesies endemik lokal yang tak kalah menawannya.

Banggalah dengan identitas lokal. Karena itu mencerminkan karakter dan ciri khas kita. Ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2