Isu Perubahan Iklim (Jangan) Dipolitisasi?

Klikhijau.com – Apakah benar ada politisasi isu perbahan iklim? Menurut Associate Professor Monash University Indonesia Ika Idris, diperlukan terobosan baru dalam menyampaikan isu krisis iklim yang ag...

Isu Perubahan Iklim (Jangan) Dipolitisasi?
Bacakan Artikel

Direktur MCCCRH Associate Professor Ilmu Komunikasi dan Media David Holmes menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan institusinya bukanlah advokasi melainkan komunikasi non-persuasi. Dalam acara yang sama, David menjelaskan bahwa Komunikasi Non-persuasi adalah komunikasi berisi fakta yang mudah dipahami masyarakat umum. Komunikasi ini juga dilakukan berulang-ulang, dikomunikasikan

oleh sumber yang dipercaya, dan menargetkan khalayak luas karena menggunakan beragam kanal. Untuk itu, komunikasi non-persuasif ini memiliki dampak yang luas dengan tingkat advokasi yang rendah.

Masih menurut David, khalayak yang terpapar oleh komunikasi perubahan iklim non-persuasif menunjukan peningkatan dalam perilaku pencegahan perubahan iklim sebanyak 16%, dibandingkan mereka yang tidak terpapar informasi dari MCCCRH ini. Bahkan khalayak yang mendapati informasi non-persuasif tersebut menunjukan 2,8% peningkatan perhatian pada perubahan iklim, sementara mereka yang tidak terpapar informasi menunjukkan 4,8% penurunan perhatian pada perubahan iklim.

Kesuksesan inilah yang ingin ditransfer dari Australia ke Indonesia karena visi MCCCRH bukan hanya terbatas pada masyarakat Australia saja. Berbicara perubahan iklim, tidak mungkin hanya pada tataran lokal, melainkan global.

Bahaya Isu Iklim Dipolitisasi


Derry Wijaya, Associate Professor Data Science Monash University Indonesia mengingatkan bahaya politisasi isu perubahan iklim seperti di Amerika. Menurut dia, isu perubahan iklim ini susah untuk dipecahkan. Memilih intervensi yang tepat untuk isu perubahan iklim juga memiliki tantangan tersendiri.

“Salah satu faktornya adalah polarisasi media, seperti yang terjadi di Amerika. Dengan begitu, mau menekan perubahan kebijakan terkait climate change susah karena agenda setting media beda-beda, persepsi masyarakat dan pembuat kebijakan pun tidak sama” ujar Derry.

Dia menambahkan, untuk itu semua pemangku kepentingan perlu melihat seperti apa framing media dan apakah ada tema yang sama yang bisa diusung bersama-sama. Sayangnya memang, karena jumlah data yang sangat besar, sulit bagi ilmuwan di ilmu-ilmu sosial melihatnya dengan komprehensif. Dengan berkolaborasi disiplin ilmu lain seperti data science, akan lebih mudah memahami seperti apa news framing dan percakapan seputar perubahan iklim. MCCCRH Indonesia Node juga akan meneliti tentang perubahan iklim dan diskriminasi serta bias sosial, untuk perkembangan literasi di Indonesia. Untuk itu MCCCRH akan bekerjasama dengan banyak pihak, seperti media, communication strategist, pemerintah, LSM, dan masyarakat.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2