'Indonesia Terserah' dan Narasi Kecewa Tim Medis

Klikhijau.com – 'Indonesia Terserah', sebuah narasi yang mendadak jadi tagar paling populis beberapa hari terakhir. Apa makna yang bisa dibaca di balik narasi kritis ini? Seorang dokter harus menja...

'Indonesia Terserah' dan Narasi Kecewa Tim Medis
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – 'Indonesia Terserah', sebuah narasi yang mendadak jadi tagar paling populis beberapa hari terakhir. Apa makna yang bisa dibaca di balik narasi kritis ini?

Seorang dokter harus menjalani protokol ketat dalam menjalankan tugasnya sebagai tim medis penanganan Covid 19. Setelah pulang dari rumah sakit dia harus karantina mandiri selama empat belas hari sebelum pulang ke rumah, bercengkerama dan memeluk anak-anaknya.

Jika melepas kerinduan dengan keluarga telah usai, dia akan berangkat lagi ke rumah sakit melanjutkan sebuah tugas yang tak mudah. Virus yang tak nampak ini mengharuskan seorang dokter memakai Alat Pelindung Diri (APD) berlapis-lapis.

Dengan serangkaian mekanisme cara pemakaian APD yang harus disertai kewaspadaan tinggi itu beberapa jam kemudian semua aktivitas pribadi seperti makan,minum, menelpon dan buang air mesti ditunda beberapa jam ke depan.

Setelah tugas di rumah sakit selesai lagi, dokter tersebut akan melakukan karantina mandiri  selama empat belas hari untuk memastikan kembali bahwa dirinya tidak memiliki gejala covid 19. Demikianlah siklus rutinitas seorang dokter yang bekerja dalam penanganan Covid 19.

Sejak aturan Stay At Home, Social Distancing, Cuci tangan pakai sabun, Mamakai masker diterapkan oleh pemerintah, sebagian masyarakat telah mengikuti anjuran itu dengan hati-hati. Mereka tidak keluar rumah jika benar-benar tidak urgen, kalaupun keluar rumah senantiasa memakai masker membawa hand sanitizer dan serangkaian protokol jaga jarak di area publik.

Dua kisah faktual di atas memberikan gambaran bahwa tenaga medis yang berjuang mati-matian dan sekelompok orang yang disiplin mengikuti protokol memutus mata rantai penularan virus adalah masyarakat yang meyakini bahwa memutus mata rantai penyebaran virus covid 19 membutuhkan pengorbanan,kesabaran, kedisipilinan dan kerjasama yang baik antar semua elemen masyarakat.

Kepatuhan Masyarakat

Kepatuhan masyarakat memiliki wajah yang beragam. Sikap masyarakat yang berbeda-beda ini secara proporsional mesti dianalisis dengan cermat agar para stakeholder memiliki langkah yang tepat.

Label keras kepala barangkali tidak berlebihan jika diberikan kepada sebagian masyarakat yang tidak patuh aturan Stay At Home dan Sosial Distancing. Sikap yang acuh tak acuh ini tentu sangat berlawanan dengan semangat untuk memutus mata rantai penularan virus. Ketika tenaga medis dan sebagian yang lain sudah berjuang maka mereka tetap tidak patuh aturan dengan berbagai alasan dan argumentasi.

Ketika anjuran memakai masker diwajibkan di banyak tempat, mereka tetap melakukan aktivitas di luar sana seperti biasa.Tanpa memakai masker, berkerumun dan berkumpul tanpa jarak, bahkan diantara mereka menampakkan sikap perlawanan seolah-olah wabah virus ini adalah hoax dan tidak membahayakan nyawa manusia.

Mereka yang tidak patuh aturan ini beragam pihak. Ada sekelompok orang yang memang benar-benar tidak peduli. Ketidakpedulian itu tidak disertai sikap tanggung jawab sosialnya sebagai bagian dari warga masyarakat. Mereka tidak paham bahwa sikap melawan aturan itu tidak hanya membahayakan dirinya sendiri tapi menjadi ancaman untuk semua orang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2