<em> Flight Shaming</em>, Cara Wisatawan Eropa Merawat Lingkungan di Udara

Klikhijau.com - Mahalnya harga tiket pesawat barangkali perlu "dirayakan". Khususny bagi para aktivis lingkungan atau orang yang mencintai lingkungan. Kenapa? Sebab kini ada gerakan yang kini sedan...

<em> Flight Shaming</em>, Cara Wisatawan Eropa Merawat Lingkungan di Udara
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Mahalnya harga tiket pesawat barangkali perlu "dirayakan". Khususny bagi para aktivis lingkungan atau orang yang mencintai lingkungan.

Kenapa? Sebab kini ada gerakan yang kini sedang tren, yakni bepergian tanpa pesawat. Semisal yang dilakukan aktivis belia Greta Thunberg yang berlayar dengan kapal bertenaga surya.

Ia berlayar dari Swedia, ia melintasi Samudra Atlantik selama 15 hari untuk memenuhi undangan KTT perubahan iklim di Kantor PBB, New York, AS. Transportasi tersebut ia pilih lantaran tidak menimbulkan emisi karbon.

Hal serupa juga Lorenz Keyßer dan Giulia Fontana. Sepasang kekasih itu menolak naik pesawat, menolak penerbangan. Dan satu dari tujuh orang dewasa saat ini menyatakan akan menghindari moda penerbangan.

Iya, saat ini di Eropa sedang tren gerakan flight shaming yang berdampak pada perjalanan udara di Eropa. Istilah tersebut lahir di Swedia.

Hal ini berawal dari Flight-free, kini gerakan menolak terbang telah masuk ke tahap selanjutnya dengan mengambil nama Flight Shame.

Gerakan ini berawal di Swedia, negara dengan frekuensi penerbangan tertinggi di dunia, satu orang Swedia terbang 7 kali lebih banyak dari warga Eropa lainnya.

"Flight shame", terjemahan harfiah dari bahasa Swedia "flygskam" adalah nama gerakan anti terbang. Gerakan ini mendorong orang agar berhenti naik pesawat untuk mengurangi buangan karbon.

Keprihatinan lingkungan,  keprihatinan dunia

Maka, sebagai bukti cinta pada lingkungan, wisatawan yang sadar lingkungan hidup memilih naik kereta daripada pesawat. Meski angka kontribusi polusinya memang sangat kecil saat ini, namun telah ada gerakan yang mengantisipasi kemungkinan industri penerbangan menjadi penyumbang besar bagi polusi udara.

Alexandre de Juniac, Pemimpin International Air Transport Association (IATA), menuturkan, ancaman terbesar untuk industri penerbangan di Eropa ini juga diprediksi akan sampai di belahan lain dunia, terutama Amerika Utara.

Hanya saja untuk Amerika sendiri, kurangnya pilihan kereta yang layak menjadi penghalang besar bagi satu gerakan ini.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2