Ekspedisi Tanah Mallawa, Menyibak Relung Tarsius

Klikhijau.com - Sore yang temaram menyambut enam mahasiswa pengembara. Mereka tiba di Mallawa menjelang Magrib. Langsung menuju rumah kepala desa. Enam remaja ini tergabung dalam organisasi mahasis...

Ekspedisi Tanah Mallawa, Menyibak Relung Tarsius
Bacakan Artikel

Ismail dan Parman begitu mengenal hutan Mallawa. Pado bertugas mendeteksi keberadaan tarsius di hutan. Lengkap sudah.

Pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan rumah Ismail. Setelah salat Subuh, mereka langsung memutar pedal gas trailnya. Menyusuri jalan setapak menuju hutan target.

[irp]

Mengapa harus pagi? Karena target penelitiannya adalah tarsius, membuat mereka menyesuaikan perilakunya. Tarsius adalah satwa nokturnal. Nokturnal berarti beraktivitas pada malam hingga dini hari.

"Sore, menjelang magrib, sekitar pukul 17.30 WITA, mereka sudah keluar dari sarang. Bersiap memulai hari. Beraktivitas. Termasuk mencari makan," ujar Pado.

"Subuh, mereka kembali ke sarang. Sang pemimpin biasanya mengeluarkan suara khas untuk memanggil kawanannya," tambah Pado.

Karenanya Safira dan kawan-kawan mesti bangun lebih pagi. Menyiapkan perlengkapan termasuk bekal makan mereka. Mereka berbagi tugas, yang laki-laki menyiapkan peralatan lapangan. Srikandi membantu Hapsah, istri Ismail, menyiapkan bekal santap siang. Mereka pun harus bangun dini hari.

Hari pertama, mereka sudah dapat kejutan. Mereka bertemu dua sarang. Tim ekspedisi juga langsung melakukan analisis vegetasi. Melakukan pengambilan data habitat tarsius. Menginventarisasi pohon di sekitar sarang.

[irp]

Karenanya membuat mereka tak bisa langsung kembali ke basecamp. Harus memenuhi target penelitian.

Tak heran jika selama ekspedisi tim pengembara ini selalu pulang menjelang Magrib.

Analisis vegetasi tidaklah mudah. Membuat plot kemudian mencatat penghuni plot. Mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon. Semua mereka hitung. Termasuk nama setiap pohon yang berada di petak ukur.

Bahkan pernah suatu waktu kembali ke rumah Ismail hingga larut. Salah seorang tim ekspedisi kemudian menceritakan kejadian itu. "Waktu itu, hari ke-5, kami melakukan analisis vegetasi di hutan Samaenre. Medannya terjal hingga kemudian kami kemalaman. Belum lagi hujan," cerita Safira Arda, ketua tim ekspedisi.

"Saat pulang, kami menyeberangi sungai yang semula bisa kami lewati tapi karena hujan, arusnya deras. Kami terpaksa lewat jembatan bambu reyot. Mana licin dan menanjak lebih dahulu," tambah Safira.

Yang lebih menegangkan dari peristiwa itu, saat salah satu anggota ekspedisi memiliki badan yang tambun. Anggota tim, kuatir jika kumpulan bambu itu tidak mampu menahan berat pelintasnya.

"Asli kami semua tegang. Syukur, Gibran bisa melewatinya," kenang Safira.

[irp]

Keseruannya tidak berakhir sampai di sana. Begitu telepon genggam mereka bertemu signal, pesan dan panggilan telepon bertubi-tubi. Maklum mereka keluar dari hutan kala Isya. Apalagi Hapsah, begitu kuatir. Termasuk saya juga mengontaknya. Memintanya memberi kabar jika pesan diterima.

"Kami tiba di rumah sekitar pukul 20.30 Wita, Bu Hapsah langsung heboh," cerita Safira.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: