Dengar Lagunya, Armonica Band Bertutur Jujur tentang Kerusakan Alam

Klikhijau.com - Armonica Band seakan jadi idola baru bagi pencinta lagu-lagu kritis bernuansa lingkungan di Indonesia. Lirik lagu grup band ini memang menyuarakan kritik keras terhadap degradasi lingk...

Dengar Lagunya, Armonica Band Bertutur Jujur tentang Kerusakan Alam
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Armonica Band seakan jadi idola baru bagi pencinta lagu-lagu kritis bernuansa lingkungan di Indonesia. Lirik lagu grup band ini memang menyuarakan kritik keras terhadap degradasi lingkungan yang kini mendekati titik nadirnya.

Dengan narasi yang cadas, Armonica seolah mewakili gelisah dan aspirasi kita semua tentang kerusakan lingkungan. Tidak seperti kebanyakan musisi dan grup band yang melulu meminjam narasi alam yang indah, Armonica seolah memaksa kita membuka mata atas realitas yang “mencemaskan” di bumi.

Salah satu lagunya dalam Album "Tanah Air Udara" berjudul “Jagalah Bumi”, mereka bertutur keras: Jagalah bumi ini karena ia telah rentah/Ia telah letih menampung hasrat manusia. Narasi ini tentu suatu peringatan tentang misi pembangunan di bumi yang kadang melupakan aspek ekologi demi investasi.

Begitu pula pada lirik lagunya berjudul “Reklamasi Benoa” berikut:

Kami berdiskusi tentang alam yang rusak di negeri ini/ Kami berdiskusi tentang kami yang kehilangan harga diri/ Tentang Benoa yang akan direklamasi/ Tentang pasir laut kami yang akan dibeli/ Tentang hutan yang tak lestari lagi/ Tentang hutan kami pun yang gundul lagi

Lirik-lirik lagu ini, tentu bicara fakta dan realitas. Melalui lagu dan musik, Armonica sedang menuturkan harapan tentang masa depan bumi yang lestari. Bumi yang tanpa degradasi akibat investasi yang tak mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Liriknya berangkat dari pengalaman

Lagu-lagu kritis Armonica Band ini terdengar menukik karena dirajut dari pengalamannya sebagai pencinta alam.

“Semua lagu ini tercipta berdasarkan pengalaman dan kegiatan sehari hari saya sebagai pecinta alam, dan saat ini sebagai relawan di LSM pemerhati lingkungan di NTB (Gema Alam NTB),” kata Yuspianal pada Klikhijau, Senin 17 Februari 2020.

Lagu-lagu grup band asal NTB ini dicipta antara tahun 2004-2019. Sementara Album bertajuk “Tanah Air Udara” dipilih dari setidaknya 80-an lagu.

Sepanjang tahun 2004-2007 misalnya, mereka menulis lagu antara lain: Cendrawasih, Jagalah Bumi, Rinjani. “Lagu-lagu itu mewakili kegelisahan saya, mengenai bencana Tsunami Aceh, gempa Bantul Yogja ditambah dengan Banjir Bandang di daerah kami di Lombok Timur pada tahun 2007,” tutur Yuspianal.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2