Armonica, Grup Band Asal NTB Rilis Album Inspiratif tentang Lingkungan

Publish by -172 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Armonica, band milenial asal NTB yang rilis lagu bertajuk "tanah, air dan udara". Foto: Ist

Klikhijau.com – Sebuah grup band asal Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Armonica Band merilis album bertajuk “Tanah, Air, Udara”.

Armonica Band yang terdiri dari Yuspianal Imtihan (Vocal), Ibenk (Gitar), Marsha (Gitar) dan Fery (Bass) mengusung tema-tema alam dan lingkungan dalam sembilan lagu yang ada di album ini.

Band ini digandrungi empat anak muda. Yuspianal pernah menjadi personil (Band Rolle, Partikel Band dan KRC), Ibenk pernah menjadi personil (KRC+), Marsha pernah aktif di band (Violet), Hendra Supartha adalah addisional Drumer yang diambil dari personil band (AYDI) dan yang terakhir adalah Fery.

Mereka berkumpul dan mempunyai misi dan kecintaan yang sama pada musik dan kesadaran kritis untuk membangun narasi lingkungan. “Semacam berkampanye lewat musik. Sebab dengan musik, orang lebih mudah menerima ketimbang diceramahi secara langsung,” kata Yuspianal kepada Klikhijau.

Proses penggarapan Album ini sendiri dimulai sejak bulan Desember 2019 di salah satu rumah produksi Pepadu Badjang Record yang digawangi Helmy Prastowo Budi. Sementara untuk Mixing dan Mastering dihandel  langsung oleh Gellen Martadinatha.

KLIK INI:  Kapus P3E Suma Terima Kunjungan Pengurus Filatelis Sulsel Bahas Program Kerja 2019

Album Tanah Air Udara ini diproduseri langsung oleh Dr. Hary Murcahyanto, M.Hum selaku Ketua Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik Universitas Hamzanwadi. Lahirnya karya ini juga merupakan entitas perjalanan yang cukup panjang mengingat Yuspianal adalah seorang aktivis lingkungan dan sampai saat ini aktif sebagai anggota OASISTALA Lombok Timur dan juga sebagai Relawan di Gema Alam NTB.

Launching tiga dimensi

Launching album “Tanah, Air, dan Udara” ini diawali di Warjack Taman Budaya NTB pada Rabu 7 Januari 2020.

Pada momen perdana itu, tema yang diambil adalah udara. Lokasi lokasi yang dipilihnya pun relevan yakni kota. Alasannya sederhana, setiap hari, polusi udara sudah menjadi teman yang jahat bagi kaum urban (kota).

Buruknya kualitas udara harus diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan tubuh yang berisiko pada kematian. Polusi bisa mencemari paru-paru menjadi tak sehat. Itu sebabnya, keberadaan udara segar menjadi hal yang berharga bagi penduduk di kota besar.

KLIK INI:  Yosepha Alomang: Lawan Freeport untuk Kesejahteraan Masyarakat Papua

Itulah yang mau disampaikan Armonika lewat lagu-lagunya. Launching di Warjack berlangsung lancar nan meriah. Dihadiri tokoh-tokoh Seniman, seperti Kiki Sulistyo, Winsa Embrio, Jaeni Mohammad dan lain-lain. Beberapa musisi asal mataram dan mahasiswa dari Lombok Timur juga ikut nimbrung.

Rencananya, launching kedua akan digelar tanggal 13-14 Januari 2020 berlokasi di pantai Padak Guar, Sambelia. Dengan mengambil representasi air, pada launching kedua nanti, Armonica berharap agar setiap manusia jangan sampai mencemari air, laut dan semua isinya.

Acara di Padak Guar nanti juga akan menjadi sesuatu yang lain dari yang lain karena ada nuansa camping. Para peserta akan nginap semalam di tenda dan paginya akan ada program bersih-bersih sampah di pesisir pantai. Jadi, bermusik tak harus amburadul. Tapi musik juga bisa dijadikan sebagai media pembelajaran. Dan Armonika akan berusaha untuk konsen di misi ini.

Dan puncaknya, akan ditutup nanti pada tanggal 25 Januari 2019 di GOR Universitas Hamzanwadi Selong.

Upaya Armonica mendukung program Pemerintah yakni Zero Waste juga tak kalah progresifnya. Selain lewat kerja kerja nyata yang sering dilakukan Armonica Band menyadari betapa air, tanah dan udara adalah bagian yang tak bisa terlepaskan dari manusia.

Launching tanggal 25 Januari nanti adalah sebuah puncak untuk sebuah eksistensi dan visi dari Armonica. “Tanah yang kita pijak musti kita jaga, agar Ia tak menelan kita”. Kira-kira hal itu yang ingin disampaikan Armonica dalam launching terakhirnya.

KLIK INI:  Walhi Sulsel: Pemerintah Kota Makassar Gagal Atasi Banjir

Lirik-lirik lagunya yang menggugah hati

Sebagai tambahan, di album “Tanah Air Udara” ini ada sembilan track. Dengan urutan track pertama bertajuk Rinjani, lagu ini dibuka dengan nuansa irama klasik. Dengan lirik mengisahkan kekaguman seseorang pada Rinjani, gunung yang menjadi kebanggaan di pulau Lombok.

Secara tidak langsung kita akan dibawa pada moment mengingat kenangan dan perenungan bagi siapa saja yang sudah menginjak kaki di Rinjani. Track kedua bertajuk Renik. Di track ini kita diajak menyadari sebuah keniscayaan. Bahwa semua yang hidup pasti akan mati.

Dan apa yang bisa kita tinggalkan bagi anak cucu nanti. Selain kebaikan-kebaikan untuk senantiasa menjaga alam agar tetap lestari, udara yang bersih, dan tanah yang subur untuk dikelola dengan baik.

Di track ketiga ada lagu berjudul “Tanya Hatimu” yang berisi keresahan betapa manusia sudah merusak alam terlalu jauh untuk kepentingan pribadi. Selanjutnya ada lagu “Reklamasi Benoa”. Yang merupakan masalah bagi kita semua.

KLIK INI:  5 Kisah Haru di Balik Kehidupan Keluarga Pemulung

Di lagu ini juga berhasil diselipkan pelbagai persoalan lain. Seperti pantai-pantai yang banyak dikeruk dan pasirnya dijual ke pihak asing. Kemudian ada lagu “Zero Waste” dan “Cendrawasih”.

Lagu zero waste berisi lirik yang amat sederhana. Namun kita sering abai pada hal itu. Lagu ini menekankan kita untuk memulai perubahan dari hal-hal kecil, memulai dari diri sendiri. Contoh sederhananya, mulailah dengan menyapu halaman rumah sendiri. Tak perlu menyapu halaman orang lain.

Jika semua memiliki kesadaran, tentu apa yang kita inginkan akan tercapai. Sedangkan lagu Cendrawasih mengisyaratkan kita agar sadar bahwa bumi dan segala isinya adalah sesuatu yang berharga dan di lagu ini juga menyinggung tentang penebangan hutan secara liar. Yang ujung-ujungnya akan melahirkan bencana dan kita sendiri yang jadi korbannya.

Tiga track terakhir dalam album ini bertajuk, “Kerajaan Malam”, “Jagalah Bumi” dan “Selamat Pagi Bumi”. Tiga track terakhir ini adalah rangkaian penutup dari semua cerita di track sebelumnya. Bahwa bumi ini harus kita jaga. Harus dilestarikan, sebab bumi adalah lahan penghidupan bagi manusia.

Apa yang kita jaga dan perbuat? Tentu memperbaiki hal-hal buruk yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. “Kita musti sadar, bahwa manusia butuh bumi dan segala isinya untuk mendapatkan makna kehidupan itu sendiri. Bumi juga ciptaan Tuhan tentu semua bertalian dengan semua unsur kehidupan ummat manusia,” kata mereka.

Penasaran? Tunggu album ini hadir di semua platform musik dunia.

KLIK INI:  Lidah Biru Lucky Mengagetkan Petugas di Australian Reptile Park
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!