Cara Beken Bank Sampah Sipakainga Gowa Menjaga Nasabah di Masa Pandemi

Klikhijau.com - Tak bisa dipungkiri bahwa selama pandemi Covid-19, omset bank sampah mengalami penurunan. Hal ini dirasakan pula oleh Daeng Ngai (48), pengelola bank sampah Sipakainga di Paccinongan K...

Cara Beken Bank Sampah Sipakainga Gowa Menjaga Nasabah di Masa Pandemi
Bacakan Artikel

“Kalau di sini, sudah pasti kami terima. Tidak tega rasanya kalau orang sudah jauh-jauh datang bawah sampah dan pulang dengan tangan kosong,” ungkap Daeng Ngai.

Tak hanya itu, beberapa jenis sampah yang dibeli dari nasabah ia rela tebus tanpa keuntungan. Misalnya sampah jenis rak telur, ia beli sesuai harga jual. Jadi, tidak ada keuntungan. Semua ini dilakukan dengan niatan tulus saling membantu dan demi menjaga hubungan baik nasabah. Bagi Daeng Ngai, kerja keras nasabahnya yang menabung harus diapresiasi.

“Kami tidak ingin mengecewakan. Jadi, ada jenis sampah yang kami beli tanpa untung. Tidak apa-apa. Biarlah kami untung di jenis sampah lainnya. Kami ikhlas yang penting nasabah terbantu,” cerita Daeng Tiro.

Sebagai suami, Daeng Tiro memang sangat mendukung istrinya. Sampah-sampah yang masuk ia pilah dan dibersihkan kembali. Bagi Daeng Tiro, sampah yang dipilah dari tempatnya haruslah benar-benar bersih. Itu pula sebabnya, tim penjemput sampah dari Bank Sampah Induk (BSI) Kota Makassar sangat percaya dengan sampah dari BSU Sipakainga.

“Saya sangat menjaga kepercayaan pak,” pesan Daeng Tiro.

Selain menjaga kualitas sampah terpilah, hubungan emosional dengan nasabah adalah segalanya bagi BSU Sikapainga. Daeng Ngai mencontohkan seorang nasabahnya yang kebetula difabel. Namanya Daeng Kaca (37), seorang janda anak satu yang paling setia menabung sampah bahkan bisa sampai 4 hingga 10 kali sebulan.

Menariknya, beberapa nasabah di BSU Sipakainga adalah anak-anak. “Banyak anak-anak yang mulai nabung sampah di sini. Ada yang dikumpulkan di rumahnya, dari tetangganya dan sebagian lagi hasil kerja memungut sampah,” kisah Daeng Ngai.

Daeng Tiro pun sempat berseloroh mengenang pengalaman menangani sampah dari anak-anak. “Anak-anak menimbang sampah biasa kodong banyak tanahnya, tapi tidak apa-apa yang penting mereka menabung sampah. Nanti di sini saya bersihkan lagi,” tuturnya.

Di halaman rumahnya yang luas, anak-anak memang banyak berkumpul untuk bermain di sore hari. Ini dijadikan momen untuk mengedukasi mereka. Sejauh ini berhasil, sebab semakin banyak warga yang mulai paham bahwa sampah sejatinya memiliki nilai ekonomi.

Sebagai bentuk edukasi, Daeng Ngai memasang papan daftar harga jenis sampah di depan rumahnya. Tulisan dari papan pengumuman ini mulai luntur, namun ia berniat memperbaharuinya. Tujuannya adalah agar warga sekitar bisa melihat jenis sampah apa saja yang bisa ditabung plus harga belinya.

Pasangan suami istri ini merasa cukup terbantu dengan adanya bank sampah. Setiap bulan, ia bisa menimbang sampahnya sekira dua hingga tiga kali dengan omset antara Rp. 1,5 juta – Rp. 2 juta.

Daeng Ngai berharap pandemi segera berakhir agar antusias warga untuk menabung juga semakin meningkat. Ia juga berharap semakin banyak orang yang peduli dengan lingkungan dengan mengelola sampah.

“Memang sampah itu kotor dan bau, tetapi setelah ditimbang hasilnya akan menjadi harum dengan rupiah,” jelas Daeng Tiro.

Keduanya mengenang di awal-awal merintis bank sampah dimana banyak orang melihatnya sebelah mata. “Orang bilang kasian, maunya kerja naloro, maunya kerja nah kotoran. Tapi, saya tidak peduli. Mereka hanya tidak tahu saja,” kisah Daeng Ngai.

Daeng Ngai ingin terus berbenah dan belajar demi perkembangan bank sampah Sipakainga. Ia berharap ke depan ada kesempatan untuk dirinya bisa studi banding ke bank sampah yang lebih maju agar bisa belajar banyak

“Saya mau studi banding dan belajar lagi. Saya mau lebih paham lagi tentang bank sampah agar ke depan bank sampah tetap bertahan,” pungkasnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2