Bob Dylan, Nobel Sastra, dan Aroma Alam dalam Lagunya

Klikhijau.com โ€“ Nobel sastra yang diterima Bob Dylan tahun 2016 lalu mendapat beragam tanggapan. Ada yang menganggapnya layak, tidak sedikit pula yang menganggapnya tak pantas dinobatkan sebagai pener...

Bob Dylan, Nobel Sastra, dan Aroma Alam dalam Lagunya
Bacakan Artikel
Klikhijau.com โ€“ Nobel sastra yang diterima Bob Dylan tahun 2016 lalu mendapat beragam tanggapan. Ada yang menganggapnya layak, tidak sedikit pula yang menganggapnya tak pantas dinobatkan sebagai penerima Nobel Sastra. Karena selama ini Nobel Sastra identik dengan penulis novel, drama, cerpen dan puisi. Maka pada tahun 2016 itu, tradisi tersebut memudar. Hal itu karena Bob Dylan bukanlah seorang novelis, dramawan, cerpenis atau penyair. Lelaki yang lahir pada 24 Mei 1941 dengan nama Robert Allen Zimmerman di Duluth, Minnesota, Amerika Serikat itu lebih dikenal sebagai pencipta lagu dan musisi. Lagu-lagunya terkenal kritis dan mengangkat isu-isu kemanusian. Ia merupakan musisi pertama yang menerima Nobel Sastra. Meski sejarah mencatat penerimanya tak selamanya dari penulis genre fiksi, semisal Winston Churchill menang Nobel Sastra berkat pidatonya. Pun demikian dengan Svetlana Alexievich, ia menang karena laporan jurnalistiknya. Dan ia menjadi jurnalis pertama jadi pemenang Nobel Sastra. [irp] Lagu-lagu Bob Dylan pun terbilang unik, tidak seperti lagu pada umumnya. Lagu-lagu ciptaan Dylan merupakan jenis ekspresi puitis. Hal itu adalah sesuatu yang baru dalam tradisi lagu Amerika. Lagu-lagunya ย mengagumkan. Bahkan majalah musik Rolling Stone menempatkannya pada urutan kedua dalam daftar "Greatest Artists of All Time". Ia ย hanya kalah satu tingkat ย saja di bawah The Beatles Lagu-lagu Bob Dylan yang puitis juga banyak yang beraroma alam. Cobalah simak lagu berikut ini yang telah diterjemahkan dan disiarkan di ย timbalaning.wordpress.com:

Berhembus bersama Angin

Berapa jalan yang harus disusuri manusia Sebelum kau bisa menyebutnya manusia? Berapa laut yang harus dilayari merpati putih Sebelum dia bisa rebah di atas pasir? Ya, berapa kali meriam harus ditembakkan Sebelum akhirnya dilarang? Jawabnya, kawan, bersama angin Berhembus bersama angin

Berapa tahun gunung harus menjulang Sebelum tersapu ke lautan? Berapa tahun orang bisa hidup Sebelum dia terbebaskan? Berapa kali kau berpaling muka Berpura-pura tak lihat? Jawabnya, kawan, bersama angin Berhembus bersama angin.

Berapa kali kau harus mendongak Sebelum kau lihat langit? Berapa telinga yang harus kita punya Untuk mendengar tangisan? Berapa banyak lagi kematian di bumi Hingga kita sadar terlalu banyak yang mati? Jawabnya, kawan, bersama angin Berhembus bersama angin.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: