Berkah Bakau yang Memukau di Utara Makassar

Klikhijau.com - Lelaki berkacamata itu sedang sibuk mencari spot foto.  Kameranya diarahkan ke jembatan kayu yang telah dicat warna-warni serupa  pelangi.  Ranselnya menggantung di pundaknya. Ia terli...

Berkah Bakau yang Memukau di Utara Makassar
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Lelaki berkacamata itu sedang sibuk mencari spot foto.  Kameranya diarahkan ke jembatan kayu yang telah dicat warna-warni serupa  pelangi.  Ranselnya menggantung di pundaknya. Ia terlihat puas dengan beberapa hasil jepretannya sore di hari Senin itu, 23 Juli 2018 meski air sedang surut.

Suasana sepi sehingga membuatnya leluasa mengatur  tripod yang menyanggah kameranya di atas jembatan yang panjangnya 270 meter. Pengunjung hutan bakau  atau mangrove Lantebung memang tidak banyak sore itu.  Hanya  lima orang , termasuk lelaki berkacamata itu. Empat orang lainnya adalah pemuda yang sedang menikmati sepoi angin laut di ujung jembatan di sebuah gazebo.

Lelaki berkacamta itu  bernama Azwir Mandala, berprofesi sebagai fotografer di Kota Makassar. Ia datang melepas rasa penasarannya pada hutang mangrove  di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, tepat  di sisi utara Makassar  tersebut.

“Ini pertama kalinya saya ke sini. Setelah melihat foto teman-teman,  saya  penasaran, jadi datang melihat langsung.  Tempat ini membuat saya terkesan, sebab ini unik berada di pinggiran Kota Makassar dengan akses yang cukup mudah,” terangnya.

Apa yang dikatakan Azwir memang benar, hutan mangrove Lantebung memang unik. Bukan hanya karena letaknya yang berada di dekat pusat kota, tetapi juga karena diinisiasi oleh masyarakat sendiri, bukan oleh pemerintah. Sambil membetulkan kacamatanya, Azwir mengalihkan pandangannya dari kameranya, menyapu hutan mangrove yang luasnya 2 km itu.

Ia berharap penanaman  mangrove terus bertambah dan mendapat dukungan dari pemerintah.  Tapi, ia tidak setuju jika  jika hutan mangrove Lantebung pengelolaannya diambil alih oleh pemerintah.

“Jika ingin melanjutkan ini ke tujuan wisata, maka fasilitas harus diperadakan, khususnya WC umum dan keamana yang perlu ditingkatkan, serta jangan dikelola oleh pemerintah, cukup dikelola oleh warga setempat dan relawan saja. Sangat banyak tempat wisata dikelola pemerintah pada  akhirnya terbengkala dan hanya menjadi tempat  mistik,” harapnya.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: