Benarkah Banjir di Sebagian Sulsel Terjadi Karena Takdir Tuhan?

Klikhijau.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui kantor Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma) menerbitkan enam arahan pengendalian banjir di...

Benarkah Banjir di Sebagian Sulsel Terjadi Karena Takdir Tuhan?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui kantor Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma) menerbitkan enam arahan pengendalian banjir di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang, DAS Tallo serta DAS Maros.

Di antaranya, agroforestry dengan teknik konservasi tanah dan air (KTA), fungsi tutupan hutan dipertahankan, pemanfaatan berbasis korporasi dengan teknik KTA, pemanfaatan non kehutanan dengan teknik KTA, prioritas rehabilitasi dan rehabilitasi.

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi  dan Maluku (P3E Suma) Darhamsyah mengatakan, bencana banjir yang melanda Makassar, Gowa, dan Maros di Sulawesi Selatan dengan aspek curah hujan yang begitu tinggi. Dan berujung dengan meluapnya DAS Jeneberang, DAS Tallo dan DAS Maros, tak lain karena ketiga daerah aliran sungai itu memiliki kemampuan alami yang rendah untuk mencegah dan melindungi masyarakat dari ancaman bencana banjir.

"Saat ini ketiga daerah aliran sungai (DAS) itu jadi kategori prioritas status pengendalian bencana banjir. Karenanya akan dipulihkan daya dukungnya. Dimana tutupan hutan pada ketiga wilayah DAS itu tidak mencapai 30 persen dari total luasan DAS," kata Darhamsyah Jumat, 25 Januari 2019.

[irp posts="1294" name="Kecemasan di Negeri tanpa Narasi Sadar Lingkungan"]

Menurut Darhamsyah, tutupan hutan pada DAS Jeneberang, DAS Tallo dan DAS Maros. Datanya masing-masing hanya meliputi 16.60 persen, 19.76 persen dan 12.10 persen dari luas wilayah DAS tersebut.

"Hal ini yang jadi penyebab rendahnya dukungan alami sungai terhadap upaya pencegahan dan perlindungan terhadap bencana banjir. Karena sesuai tren data bencana tahunan dari 2009 hingga 2018 di Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Maros sebagai daerah hulu dan hilir ketiga DAS tersebut. Didominasi oleh kejadian bencana banjir. Dan ini tentunya diperlukan upaya antisipasi agar bencana banjir dapat dihindari atau diminimalisir," Darham menjelaskan.

Akademisi Unhas Angkat Suara Soal Banjir

Tingginya curah hujan serta faktor lalainya manusia. Penyebab perubahan karakteristik pada daerah hulu dan hilir yang berdampak pada daerah aliran Sungai Jeneberang, Sungai Tallo dan Sungai Maros meluap. Dan menyebabkan banjir pada kawasan sekitarnya. Akhirnya, menuai respon dari kalangan akademisi Universitas Hasanuddin.

Doktor jebolan kampus Kyushu University, Jepang.  DR Andang Suryana Soma S.hut. M.P mengaku, pentingnya implementasi konsep perencanaan kota dalam pengelolaan aliran air yang diintegrasikan dengan masterplan drainase. Dari efek bencana banjir yang sewaktu-waktu merendam wilayah Makassar, Gowa dan Maros.

[irp posts="1239" name="Kepungan Bencana di Sulsel, Sebuah Penanda Indonesia Sedang Sakit Parah."]

"Untuk menjamin pengendalian bencana banjir, semua pihak harus fokus pada wilayah kawasan hutan yang berada di tiga hulu DAS Jeneberang, Tallo dan Maros. Dengan jalan perbaikan kondisi tutupan lahan aktual, dan penyesuaian peruntukan rencana pola ruang yang memperhatikan penutupan lahan vegetatif yang proporsional," kata Andang Suryana Jumat, 25 Januari 2019.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2