Benarkah Banjir di Sebagian Sulsel Terjadi Karena Takdir Tuhan?

Publish by -77 kali dilihat
Penulis: Klikhijau
Kecemasan di Negeri tanpa Narasi Sadar Lingkungan Banjir
Banjir Makassar/Foto-Akmal

Klikhijau.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui kantor Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma) menerbitkan enam arahan pengendalian banjir di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang, DAS Tallo serta DAS Maros.

Di antaranya, agroforestry dengan teknik konservasi tanah dan air (KTA), fungsi tutupan hutan dipertahankan, pemanfaatan berbasis korporasi dengan teknik KTA, pemanfaatan non kehutanan dengan teknik KTA, prioritas rehabilitasi dan rehabilitasi.

Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi  dan Maluku (P3E Suma) Darhamsyah mengatakan, bencana banjir yang melanda Makassar, Gowa, dan Maros di Sulawesi Selatan dengan aspek curah hujan yang begitu tinggi. Dan berujung dengan meluapnya DAS Jeneberang, DAS Tallo dan DAS Maros, tak lain karena ketiga daerah aliran sungai itu memiliki kemampuan alami yang rendah untuk mencegah dan melindungi masyarakat dari ancaman bencana banjir.

“Saat ini ketiga daerah aliran sungai (DAS) itu jadi kategori prioritas status pengendalian bencana banjir. Karenanya akan dipulihkan daya dukungnya. Dimana tutupan hutan pada ketiga wilayah DAS itu tidak mencapai 30 persen dari total luasan DAS,” kata Darhamsyah Jumat, 25 Januari 2019.

KLIK INI:  Kecemasan di Negeri tanpa Narasi Sadar Lingkungan

Menurut Darhamsyah, tutupan hutan pada DAS Jeneberang, DAS Tallo dan DAS Maros. Datanya masing-masing hanya meliputi 16.60 persen, 19.76 persen dan 12.10 persen dari luas wilayah DAS tersebut.

“Hal ini yang jadi penyebab rendahnya dukungan alami sungai terhadap upaya pencegahan dan perlindungan terhadap bencana banjir. Karena sesuai tren data bencana tahunan dari 2009 hingga 2018 di Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Maros sebagai daerah hulu dan hilir ketiga DAS tersebut. Didominasi oleh kejadian bencana banjir. Dan ini tentunya diperlukan upaya antisipasi agar bencana banjir dapat dihindari atau diminimalisir,” Darham menjelaskan.

Akademisi Unhas Angkat Suara Soal Banjir

Tingginya curah hujan serta faktor lalainya manusia. Penyebab perubahan karakteristik pada daerah hulu dan hilir yang berdampak pada daerah aliran Sungai Jeneberang, Sungai Tallo dan Sungai Maros meluap. Dan menyebabkan banjir pada kawasan sekitarnya. Akhirnya, menuai respon dari kalangan akademisi Universitas Hasanuddin.

Doktor jebolan kampus Kyushu University, Jepang.  DR Andang Suryana Soma S.hut. M.P mengaku, pentingnya implementasi konsep perencanaan kota dalam pengelolaan aliran air yang diintegrasikan dengan masterplan drainase. Dari efek bencana banjir yang sewaktu-waktu merendam wilayah Makassar, Gowa dan Maros.

KLIK INI:  Kepungan Bencana di Sulsel, Sebuah Penanda Indonesia Sedang Sakit Parah.

“Untuk menjamin pengendalian bencana banjir, semua pihak harus fokus pada wilayah kawasan hutan yang berada di tiga hulu DAS Jeneberang, Tallo dan Maros. Dengan jalan perbaikan kondisi tutupan lahan aktual, dan penyesuaian peruntukan rencana pola ruang yang memperhatikan penutupan lahan vegetatif yang proporsional,” kata Andang Suryana Jumat, 25 Januari 2019.

Andang menjelaskan, rekayasa vegetatif dapat ditempuh dengan jalan pemanfaatan vegetasi, dan tanaman untuk mengurangi erosi. Bisa juga melakukan penyediaan air melalui upaya rehabilitasi hutan dan lahan, penghijauan di ruang terbuka hijau (RTH).

Sementara untuk rekayasa teknis mencegah dan mengendalikan banjir, sambung Andang, bisa dilakukan dengan penanaman menurut kontur. Sistem pertanaman lorong, penggunaan mulsa, pembangunan DAM pengendali, bronjong, sabo, embung dan bangunan rekayasa teknis pengendali banjir lainnya.

Kendati demikian, Andang tak menampik jika kompleksitas masalah banjir tidak lepas dari persoalan hutan yang kian banyak beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan pertambangan maupun permukiman.

Akhirnya, kejadian bencana alam seperti banjir dan longsor tidak terhindarkan. Kawasan-kawasan hutan dan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sebelumnya berfungsi jadi daerah penyangga daerah di bawahnya dari bencana dan sebagai daerah tangkapan serta  penyedia air.

KLIK INI:  Kisah Pilu dari Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa

“Pemandangannya kini semakin banyak difungsikan untuk berbagai kegiatan pembangunan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Alhasil dari tekanan aktivitas pembangunan dari tahun ke tahun semakin berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan. Dan itu terlihat ketika di tahun 2004 lalu, saya berada di kota Malino Gowa ketika terjadi longsor di lereng Gunung Bawakaraeng yang membawa perubahan derastis hingga saat ini,” ungkap Andang.

Andang menambahkan, kejadian bencana alam seperti banjir dan longsor di penyangga kota Makassar. Yakni Kabupaten Gowa sudah menjadi agenda tahunan yang berlangsung dari tahun ketahun.

“Kerusakan lingkungan yang terus meluas tentu akan berdampak buruk terhadap timbulnya bencana. Semakin besar dan semakin mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lain yang ada di dalamnya,”Andang memungkasi.

Sementara data yang dihimpun terkait gambaran tiga daerah aliran sungai besar yang meluap, dan merendam Makassar, Gowa dan Maros. Diantaranya, Sungai Jeneberang dari mulut sungai hingga selat Makassar panjangnya 80 Km, dengan ukuran cekungan DAS 860 Km2.

Sungai Tallo, adalah sungai yang membelah kota Makassar. Dan  sungai ini bermuara di 2 kabupaten/kota antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, dan bermuara di Selat Makassar. Sungai Tallo memiliki panjang 10 Km.

Sementara Sungai Maros yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Maros. Hulu sungai ini berada di Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, dan muara Sungai Maros berada di Selat Makassar.

KLIK INI:  Bili-bili, Bendungan yang Berada di Gerbang Antara
Editor: Ian Konjo

KLIK Pilihan!