Baca Dulu, Baru Ngopi: Tapi Siapa yang Mau?

Klikhijau.com - Bayangkan ini: bumi menggigil. Ia berkeringat lewat hujan yang derasnya seperti dendam. Jalanan tergenang, selokan menjerit, dan di dalam grup WhatsApp keluarga, kita sibuk kirim video...

Baca Dulu, Baru Ngopi: Tapi Siapa yang Mau?
Bacakan Artikel

Sayangnya, kita hidup di era di mana semua dibaca kecuali makna. Tautan artikel tentang suhu global yang melonjak hanya dibaca judulnya. Laporan tentang degradasi tanah dikomentari, "Ngeri ya," lalu di-skip demi video prank. Ilmuwan bisa berteriak lewat ratusan jurnal peer-reviewed—tapi kita lebih percaya suara YouTuber yang mukbang sambil bahas teori konspirasi.

Menurut IPCC Sixth Assessment Report, dunia kini berada di ambang bencana ekologis yang tak bisa dibalik. Tapi kita terlalu sibuk “membaca” tren TikTok dan filter baru Instagram. Sementara aktivis lapangan kelelahan menjelaskan siklus air ke publik yang pikirannya masih menduga hujan deras adalah hasil HAARP dan doa tetangga sebelah.

Bahkan “data” pun kini jadi ornamen. Seperti kepala daerah tadi: menyulap angka tonase sampah jadi backdrop selfie. Tidak ada rasa bersalah, apalagi krisis. Yang ada hanya estetika kesungguhan palsu—data dipajang, masalah dibiarkan. Mungkin menurut mereka, jika masalah tidak diselesaikan, cukup dipublikasikan. Dan itu sudah cukup meletakkannya dalam sejarah sebagai pemimpin yang peduli!

Krisis ideologi ini bukan baru. Paulo Freire pernah bilang: “Membaca dunia mendahului membaca kata-kata.” Tapi kita hari ini justru kebalikannya. Kita membaca kata-kata—tanpa paham apa dunia sedang teriak.

Tak heran jika kemudian bumi makin tidak sabar. Laut naik, suhu naik, harga naik—yang tak naik cuma kesadaran. Aktivis mencret idealisme, sebab setiap argumen dibalas stiker lucu. Politisi sakit gigi, bukan karena pikir keras soal solusi, tapi karena terlalu banyak senyum basa-basi di depan kamera.

Dan di tengah semua itu, kita tetap malas membaca. Malas membuka. Malas bertanya. Padahal, krisis besar dalam sejarah manusia selalu diawali oleh keengganan memahami tanda. Dan jika kita gagal membaca dunia hari ini, besok kita mungkin harus belajar membaca batu nisan peradaban sendiri.

Tapi belum terlambat. Tak perlu jadi filsuf atau ekolog. Cukup mulai dari hal sederhana: klik tautan. Baca utuh. Bertanya. Memahami. Karena mungkin, di satu paragraf yang kita baca hari ini—tersimpan percikan akal sehat yang bisa menyelamatkan esok.(*)

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2