Asap Karhutla Dipastikan Tidak Menyusup ke Malaysia

Klikhijau.com - Pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan Citra Satelit Himawari dan Satelit Sentinel. Teridentifikasi adanya peningkatan jumlah titik-titik panas sec...

Asap Karhutla Dipastikan Tidak Menyusup ke Malaysia
Bacakan Artikel

"Apa yg terjadi di kita ini merupakan fluktuasi tahunan yang biasa terjadi di Indonesia. Ini masih di bawah dari Business As Usual (BAU) yang biasa terjadi di Indonesia. Hal ini karena Pemerintah Indonesia telah merubah paradigma dari pemadaman menjadi pencegahan," ujar Ruandha.

Data KLHK sampai 31 Agustus 2019 menunjukkan luas areal lahan dan hutan yang terbakar seluas 328 ribu ha yang berarti masih 35 persen lebih rendah dari luas areal terbakar pada tahun 2018 yang mencapai 510 ha.

Luas areal terbakar tahun 2019 itu terbagi di lahan gambut seluas 89 ribu. Sementara di lahan tanah mineral seluas 239 ribu ha.ย  Data ini mengkonfirmasi jika perlindungan areal gambut di Indonesia lebih baik. Karena luas areal terbakar tidak didominasi pada areal gambut yang sulit dipadamkan melainkan di tanah-tanah mineral yang relatif lebih mudah dipadamkan.

Kemudian untuk dua bulan ke depan ditambahkan oleh BMKG jika pada bulan Oktober hingga pertengahan bulan November. Kondisi kemungkinan terjadinya hotspot masih cukup tinggi, hal ini karena pengaruh musim kemarau yang lebih panjang.

Modifikasi cuaca

Namun demikian, BMKG bersama BNPB telah bersiap melakukan hujan buatan, bibit-bibit awan sudah mulai ada. Sehingga sudah bisa dilakukan pembuatan hujan buatan. Di Riau dan Palembang sudah dilakukan pembuatan hujan buatan. Untuk Kalimantan Barat masih menunggu terbentuknya bibit awan guna penyemaian garam untuk hujan buatan.

Kegiatan modifikasi cuaca (TMC) dengan pembuatan hujan buatan hingga tanggal 6 September 2019. Hal ini telah dilakukan 207 kali sorti dengan jumlah garam yang ditaburkan mencapai 160.816 kg.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: