Arbei, Tumbuhan Liar yang Berpotensi sebagai Tanaman Buah

 Klikhijiau.com – Jupri berhenti sejenak. Ia memetik buah tumbuhan liar yang telah memerah. Tanda telah layak untuk dikonsumsi. “Bukkere,” ujar ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kindang itu. B...

Arbei, Tumbuhan Liar yang  Berpotensi sebagai Tanaman Buah
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Buah dari tumbuhan yang masuk ordo Rosales ini berjenis  agregat. Tumbuhan ini berbentuk semak. Batangnya memiliki duri yang tajam.

Tumbuhan dari genus rubus ini acap dijumpai ada anakan yang tumbuh dibawah tumbuhan ini.

Penyebaran dan habitat

Untuk penyebarannya sendiri, tumbuhan ini dapat kita  jumpai di Asia Tenggara, Himalaya, Asia Timur dan bagian timur Australia.

Meski tumbuh liar, jangan harap menemukannya di dataran rendah. Sebab tumbuhan ini hanya tumbuh di dataran tinggi pada ketinggian  kurang lebih 1000 mdpl.

Saat menjelajah pada ketinggian, tumbuhan ini akan mudah ditemukan, ia dapat dijumpai dijumpai di area terbuka, ladang atau di dalam hutan.

[caption id="attachment_29761" align="aligncenter" width="650"] Buah arbei yang telah matang, berwarna merah[/caption]

Manfaat arbei

Di Indonesia, khususnya Desa Kindang, tumbuhan ini belum dilirik dan tidak memiliki nilai ekonomi. Padahal buahnya dapat dimakan saat matang. Bahkan di pasar sekitar Himalaya, buah tanaman ini dijual.

Selain buahnya dapat dimakan, daun tumbuhan ini juga dapat digunakan sebagai obat teh herbal. Khasiatnya untuk mengatasi sakit akibat diare, menstruasi, flu, dan mual di pagi hari dan sakit akibat persalinan. Daun tumbuhan ini mengandung minyak atsiri.

Buahnya, selain enak dimakan, juga memiliki manfaat menakjubkan sebab dapat dimanfaatkan sebagai pencahar dan mengatasi demam.

Hasil penelitian menunjukkan buah arbei memiliki efek antidiabetes, antimikroba, antikanker, antiinflamasi dan antihipertensi.

Daun arbei memiliki aktivitas antioksidan, inhibitor elastase pankreas dan memiliki kandungan fenol yang tinggi.

Afriyeni dkk (2023) mengungkapkan bahwa hasil isolasi senyawa murni menunjukkan, daun arbei mengandung quercetin, pomolic acid, tormentic acid, euscaphic acid, ellagic acid, B-Caryophyllene, rosifoliol dan nevadensin.

Beberapa dari senyawa tersebut telah terbukti memiliki efek sebagai antihiperglikemia, yaitu quercetin, pomolic acid, tormentic acid, dan euscaphic acid dengan mekanisme kerja berbeda satu sama lain.

Belum dimanfaatkan maksimal

Meski beberapa penelitian menunjukkan jika tanaman ini memiliki manfaat kesehatan. Namun, masyarakat desa kendang belum memanfaatkannya secara maksimal. Bahkan cenderung tumbuhan ini dianggap gulma yang harus diberantas.

Arbei gunung, adalah salah satu potensi tanaman obat yang bisa dibudidayakan. Apa yang ditemukan oleh Afriyeni dan peneliti lainnya dapat menjadi acuan dan angin segar di antara kepungan obat medis.

Menjadikan tumbuhan sebagai landasan kesehatan telah dilakukan beribu tahun lampau. Tidak ada salahnya jika kita back to nature dalam hal penanganan dan pencegahan penyakit.

Selain itu, menurut  Surya dan Ismaini (2021) tumbuhan ini adalah salah satu jenis rasberi liar yang memiliki potensi cukup tinggi untuk dikembangkan sebagai tanaman buah

Pengembangannya dapat ditujukan ke arah buah segar, bahan baku makanan, minuman maupun industri serta berbagai jenis produk turunan lainnya.

Bagaimana sahabat hijau, tertarik membudidayakannya atau tertarik menikmatinya langsung di alam bebas seperti Jupri?

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2