Agus Cemas, Bibir Pantai Pasangkayu Bergeser 2,5 Kilometer

oleh -378 kali dilihat
Ilustrasi abrasi pantai
Ilustrasi abrasi pantai, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat/foto-ANTARA-Akbar Tado.
Irhyl R Makkatutu

Pasangkayu, Klikhijau.com – Agus Ambo Djiwa mengaku cemas melihat daerah yang dipimpinnya dihantam abrasi. Selama setahun terakhir hantaman gelombang tinggi menyebabkan bibir pantai bergeser dengan bentangan 2,5 kilometer. Abrasi itu menjamah  jalan kawasan pantai di Desa Karya Bersama, Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat.

Agus mengaku pohon bakau dan pohon kelapa yang selama ini menjadi benteng pertahanan dari hantaman gelombang, tumbang dan ambruk setelah tanah di sekitarnya hanyut oleh gelombang. Bahkan jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Sulsel, Sulbar, Sulteng dan Sulut itu hampir putus

Karenanya, Agus Ambo Djiwa yang merupakan Bupati Pasangkayu meminta pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR dapat membangun tanggul pantai, karena jika dibiarkan terus, dapat memutuskan jalur trans Sulawesi.

KLIK INI: Abrasi Sungai Jeneberang Mulai Cemaskan Warga Parangtambung

“Saya meminta kepada Kementerian PU untuk membangun tanggul penahan ombak sesegera mungkin, karena pembangunan tanggul penahan ombak bukan lagi kewenangan pemerintah kabupaten, tapi sudah menjadi kewenangan pemerintah pusat,” pintanya seperti yang dimuat di  antaranews.com, Senin, 25 Februari 2019.

Abrasi tersebut bukan hanya mengancam jalan trans Sulawesi, tetapi juga melahirkan cemas, sebab banyak perumahan penduduk yang rusak. Bahkan abrasi terus mendekati lokasi pemukiman warga dan tempat fasilitas umum. Kawasan yang dulunya merupakan perkampungan penduduk, tapi kini sudah jadi laut.

KLIK INI: Jaga Fungsi Hutan, Solusi Cegah Bencana Banjir

“Sejumlah fasilitas masyarakat seperti perumahan penduduk rusak berat dan sebagian terpaksa harus menggeser rumahnya ke arah jalan agar tidak hancur diterjang ombak,” ungkap Agus.

Ia  berharap  pemerintah pusat dapat secepatnya mengambil langkah antisipasi abrasi di Pantai Karya Bersama sebab sejak abrasi terjadi, kecemasan masyarakat semakin tinggi dan tidak tenang hidup di kawasan pantai, khususnya yang dijamah abrasi. (ir)