Yang Tiba dalam Hujan

Panggangan kemarau menetak separuh napasnya. Matanya tak pernah alpa menggerimis ketika menatap keluar jendela. Pemandangan terasa mengiris-iris seinci demi seinci tubuhnya. Kemarau telah mengering...

Yang Tiba dalam Hujan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Panggangan kemarau menetak separuh napasnya. Matanya tak pernah alpa menggerimis ketika menatap keluar jendela. Pemandangan terasa mengiris-iris seinci demi seinci tubuhnya.

Kemarau telah mengeringkan irigasi. Padi yang hampir panen banyak mengering. Tanda gagal panen membayang tunai.

Tagihan arisan yang diikuti oleh istrinya datang pula memanen. Telah berkali-kali ia mengingatkan Nadita agar tak ikut arisan alumni taman kanak-kanaknya.

Tapi, istrinya itu tak pernah menggubrisnya. Ia datang mengambil nomor, nomor 18 sebagai nomor undiannya.

Ketika sampai di rumah, dengan girang ia memperlihatkan nomor cabutannya itu.

“Ini nomor keberuntungan, tanggal ulang tahun kita.” Ia dan Nadita, memang lahir ditanggal yang sama, beda tahun saja. Ia lebih tua tiga tahun dari istrinya itu.

“Dua kali setahun bayarnya, itu pas usai panen padi. Jadi tak berat, bukan?” Bujuk Nadita saat ia menggubris seadanya perihal arisan itu.

Baginya arisan adalah utang yang terus meneror. Dengan jumlah peserta 23 orang. Itu artinya ia akan membayar sebanyak 22 kali. Repot.

Mengering risih

Ia menatap kembali sawahnya. Bayangan istrinya yang akan kusut membayar arisan terbayang tunai. Jika hujan tak segera bertandan, gagal panen akan jadi berantakan.

Sejak seminggu yang lalu. Istrinya telah diungsikan ke rumah mertuanya. Ia membawa serta Rate, anak lelaki pertamanya yang baru berusia dua tahun sembilan hari.

Karena Rate pula, istrinya masuk jadi peserta arisan alumni TKnya. Ia ingin kembali akrab dengan teman-teman TK dulu. Meski tak ada ingatan masa kecil yang bisa mereka cerita waktu di TK.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2