Urin Mampu Atasi Masalah Kekeringan Dunia Pertanian, Benarkah?

oleh -152 kali dilihat
Mendebarkan, Indonesia Terancam Kekeringan karena Kemarau Panjang?
Ilustrasi kekeringan/foto-metropekanbaru.com

Klikhijau.com – Selalu ada solusi pada tiap masalah, bukan?  Seperti itu pulalah yang dialami oleh negara Niger, yang terkenal acap dilanda kekeringan.

Kekeringan membuat negara yang bersaput  daratan (landlocked) di bagian barat Afrika itu, berada dalam masalah. Terutama dalam hal pertanian.

Pertanian adalah aktivitas yang membutuhkan asupan air yang memadai untuk menumbuhkan tanaman. Ketiadaan air merupakan bencana bagi dunia pertanian.

Karena sering dilanda kekeringan, dunia pertanian Niger tersendat. Gagal panen adalah kisah yang dianggap lumrah, bahkan melebar pada ancaman kelaparan yang luas.

KLIK INI:  Kenali Badai Tropis Seroja, Penyebab Banjir Bandang di NTT

Namun, negara yang berbatasan dengan Nigeria dan Benin di sebelah selatan itu. Bakal segera menemukan solusi untuk menuntaskan masalah kekeringan yang sering melanda.

Negara yang berbatas dengan Mali di sebelah barat tersebut sedang  berusaha menemukan solusi murah dan berkelanjutan untuk menghidupkan kembali pertaniannya.

Dan solusinya terbilang tidak lumrah, sebab untuk mengatasinya negara yang namanya diambil dari Sungai Niger itu akan menggunakan urin manusia.

Solusi tersebut ditemukan oleh tim peneliti dari Niger, Inggris, dan Jerman. Para peneliti menilai urin memiliki manfaat  yang dapat digunakan pula menjadi pupuk pupuk. Karena  kaya akan mineral, murah, dan mudah diakses.

Namun, itu mengakali agar konotasi negatif istilah urin, para peneliti mengganti namanya dengan Oga, yang artinya bos dalam bahasa Igbo.

KLIK INI:  Ini Beda Tanaman dan Tumbuhan serta Hubungan Timbal Baliknya dengan Lingkungan!
Telah digunakan ribuan tahun

Sebelum negara yang berbatasan dengan  Aljazair dan Libya di sebelah utara itu menggunakan urin untuk dunia pertanian. Selama ribuan tahun, manusia telah mengetahui bahwa urin adalah pupuk yang sangat baik untuk tanaman.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Agronomy for Sustainable Development mengungkapkan, urin mengandung banyak bahan yang ditemukan dalam pupuk komersial, seperti fosfor, nitrogen, dan kalium. Namun, karena rasa mual yang terkait dengan penggunaan urin untuk bercocok tanam, penggunaannya selalu dibatasi.

Namun, untuk memastikan apakah penggunaan urin efektif.  Para peneliti menguji efektivitasnya pada pertanian skala besar. Mereka  melakukan total 159, 288, dan 234 uji coba di lahan antara tahun 2014 dan 2016.

Para petani dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok  pertama terus menggunakan metode pertanian tradisional mereka untuk bercocok tanam. Biji-bijian millet mutiara mereka (jenis tanaman yang umum di wilayah tersebut), sedangkan kelompok kedua menerapkan Oga (dengan atau tanpa kotoran hewan) ke plot percobaan mereka.

KLIK INI:  Startup Pertanian Berkelanjutan Koltiva Raih Pendanaan Seri A dari AC Ventures

Setelah dilatih tentang cara menggunakannya dengan aman. Hasilnya menunjukkan bahwa, selama periode tiga tahun, mereka yang menggunakan Oga mengalami peningkatan rata-rata 30 persen dalam hasil panen mereka.

“Oga adalah pilihan pupuk dengan input keuangan rendah risiko rendah yang siap disebarluaskan di situs Sahel berpasir dengan tingkat hasil millet mutiara yang rendah,” tulis penulis studi tersebut.

Dua tahun setelah eksperimen ini, para peneliti menemukan bahwa metode ini telah meningkat popularitasnya secara signifikan, dengan lebih dari seribu petani secara teratur menggunakannya untuk menyuburkan tanaman mereka.

“Jutaan dan jutaan dolar per tahun dihabiskan untuk mencoba mengolah limbah kita sebelum masuk ke perairan penerima untuk kriteria nitrogen dan fosfor yang dapat diterima,” kata Cara Beal, seorang peneliti Kesehatan Lingkungan di Griffith University di Australia.

KLIK INI:  SD Negeri Borong Perkuat Gerakan PBLHS untuk Jadi Sekolah Adiwiyata Nasional

“Tetapi jika kita dapat menutup lingkaran nutrisi itu, itu akan sangat masuk akal dalam hal keberlanjutan, ekonomi sirkular, dan menjaga planet kita sedikit lebih baik,” lanjutnya menyimpulkan.

Perlu penelitian lanjutan

Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan uk menilai manfaat menggunakan urin sebagai pupuk di negara-negara industri juga.

Menurut beberapa ilmuwan, beralih dari pupuk komersial ke urin tidak hanya dapat meningkatkan hasil panen dan mengurangi sumber daya intensif bahan bakar fosil yang dibutuhkan untuk menumbuhkannya, tetapi juga membuat sistem sanitasi kita lebih berkelanjutan.

KLIK INI:  Berkenalan dengan Aglonema Sang Ratu Daun, Primadona Ibu-Ibu Muda