Upaya Kolaboratif ASEAN-Jerman Atasi Sampah Lautan

oleh -25 kali dilihat
Upaya Kolaboratif ASEAN-Jerman Atasi Sampah Laut
Suasana diskusi mengenai Upaya Kolaboratif ASEAN-Jerman Atasi Sampah Laut - Foto: dok KLHK

Klikhijau.com – Upaya kolaboratif dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Sekretariat ASEAN dan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman dalam mengatasi sampah laut.

Mengawali inisiatif dan Kerjasama di bidang penanganan sampah laut, telah digelar diskusi  di Jakarta, Rabu (30/11) lalu. Forum ini sekaligus sebagai momen peluncuran resmi Proyek Reduce, Reuse, Recycle To Protect The Marine Environment And Coral Reefs (3RproMar) di Indonesia untuk periode 2022-2025.

Fokusnya adalah pada isu ekonomi sirkular dan kesadaran lingkungan, khususnya penanganan sampah di laut.

Dialog kebijakan digelar demi menggali informasi, pengetahuan, strategi serta menjadi wadah pembelajaran dan bertukar informasi tentang sirkularitas plastik untuk mengatasi sampah laut di ASEAN yang diterapkan di Indonesia.

KLIK INI:  RHL Selain Perbaiki lingkungan, Juga Serap Tenaga Kerja

Dari dialog ini nantinya akan melahirkan sejumlah rekomendasi untuk Proyek (3RproMar) terkait isu-isu yang relevan dan dapat dieksplorasi untuk kerja sama pembangunan selanjutnya.

Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut KLHK, Dasrul Chaniago dalam sambutannya, menyampaikan sampah laut mayoritas bersumber dari daratan khususnya kegiatan domestik perilaku masyarakat.

Menurut Dasrul, pencemaran sampah laut menjadi permasalahan lintas batas wilayah. Keberadaan sampah laut dapat mengganggu ekosistem dan pariwisata yang berdampak pada perekonomian.

“Untuk itu, perlu dilakukan pemantauan sampah laut dan kerjasama dari berbagai pihak untuk penanganan dan pengurangannya,” katanya.

KLIK INI:  Energi Terbarukan Jadi Pembangkit Listrik Utama di Uni Eropa

Sementara itu, Dr. David Tantow, atas nama Kedutaan Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste menyambut baik dan mendukung rencana proyek ini.

Menurutnya, Indonesia akan melanjutkan peran kepemimpinannya dengan keketuaan ASEAN untuk tahun 2023 dan dapat mengandalkan Jerman sebagai mitra yang kuat.

“Proyek ini memegang peranan penting sebagai salah satu bentuk komitmen dan dukungan pemerintah Jerman untuk menjaga kerjasama internasional yang telah terjalin lama antara kedua negara, khususnya pada topik lingkungan yang berkelanjutan sebagai salah satu fokus utama kontribusi pemerintah Jerman dalam dunia global,” ujarnya.

Proyek 3RproMar dilaksanakan untuk mendukung negara-negara anggota ASEAN dalam rangka peningkatan kapasitas implementasi untuk mengurangi kebocoran sampah berbasis darat.

KLIK INI:  Tahura Mengantar V ke Salemba, Jakarta

Ini bertujuan untuk melindungi lingkungan laut di tingkat lokal dan transisi strategi menuju ekonomi sirkular, serta untuk berkontribusi dalam meningkatkan kerjasama regional dan pengelolaan manajemen pengetahuan di antara negara-negara ASEAN.

Proyek ini telah dimulai sejak Juli 2020 dan akan dilaksanakan hingga Juni 2025. Pada implementasi proyek 3RproMar di level nasional, GIZ menjalin kerjasama dengan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Ditjen PPKL KLHK).

Dialog diselenggarakan secara hybrid melalui Zoom dan live streaming Youtube dengan mengundang para pemangku kepentingan baik dari perwakilan Pemerintah Pusat dan Daerah, sektor swasta/industri, sektor informal, akademisi, organisasi masyarakat, serta mitra pembangunan.

Sesi tematik pertama mendiskusikan potensi alternatif instrumen dalam mengimplementasikan PermenLHK P.75 Tahun 2019. Antara lain mengenai: 1) kesenjangan kapasitas kelembagaan dalam penegakan dan pelaksanaan peraturan pengelolaan limbah; 2) mekanisme keuangan yang diperlukan sebagai insentif bagi bisnis yang mematuhi peraturan tersebut (misal terkait plastic credits atau catatan pemulihan pengemasan), dan 3) peningkatan mekanisme  tanggung jawab produsen termasuk pada pengumpulan dan pemantauan data.

Selain itu, diharapkan pula untuk menciptakan kesadaran, keterbukaan atas potensi solusi baru (pembiayaan), memperluas pengetahuan tentang potensi integrasi plastic credits ke dalam skema Extended Producer Responsibility (EPR). Para peserta diajak bertukar praktik baik, pembelajaran, dan pengalaman di sektor swasta dalam membiayai pelaksanaan Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh produsen.

KLIK INI:  Swedia Darurat karena Kekurangan Sampah, Indonesia Darurat karena Sebaliknya

Pada sesi tematik kedua, para peserta yang berasal dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dan Provinsi bertukar pengetahuan dan informasi tentang bagaimana memperkuat peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola sampah rumah tangga khususnya plastik secara berkelanjutan.

Dibahas juga mengenai tantangan yang dihadapi Kabupaten/Kota dalam mengelola sampah plastik dan peluang proyek 3RproMar untuk berkontribusi dan mendukung Kabupaten/Kota sebagai langkah memajukan implementasi strategi nasional.

Sesi tematik ketiga yang juga diisi peserta dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dan Provinsi bertukar pengetahuan dan informasi tentang bagaimana memperkuat peran dan kapasitas pemerintah daerah dalam melaksanakan pemantauan sampah laut khususnya plastik.

Dengan dipandu oleh Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut KLHK, para peserta dan narasumber membahas dan bertukar pikiran serta tantangan yang dihadapi Kabupaten/Kota dalam  pelaksanaan SE.9 MENLHK Tahun 2020 tentang Pemantauan Sampah Laut. Selanjutnya menganalisa peluang proyek 3RproMar untuk berkontribusi dan mendukung Kabupaten/Kota sebagai langkah memajukan implementasi strategi nasional.

KLIK INI:  Krisis Iklim Harus Ditangani Secara Kolaboratif dengan Seluruh Pihak