Tumbuh Liar Jadi Gulma, Lamanti Tetap Diminati sebagai Sayuran

Klikhijau.com –  Pada aplikasi LeafSnap, lamanti dideteksi sebagai Solanum americanum. Namun, sepertinya itu keliru. Karena Solanum americanum merupakan tanaman beracun. Sementara lamanti bisa dikonsu...

Tumbuh Liar Jadi Gulma, Lamanti Tetap Diminati sebagai Sayuran
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Menariknya dalam 100 gram buah leunca segar mengandung  90  g  air,  0.1  g lemak, 1.9  g  protein,  7.4 g karbohidrat, 274 mg Ca, 4.0 g Fe, 0.5 g karoten, 17 mg vitamin C, 0.1 mg vitamin B1, dan 17 mg vitamin C.

Namun meski memiliki banyak kandungan, lamanti atau leunca sebagian besar hanya dipanen dari areal yang kurang pemeliharaan, biasanya di kebun atau di semak-semak—tempatnya tumbuh liar.

Bisa jadi obat herbal

Rupanya selain sebagai sayuran yang nikmat, tumbuhan ini dapat pula dimanfatkan sebagai obat tradisional. Misalnya di Jawa Barat dijadikan sebagai  aprodisiak, yakni zat yang merangsang daya seksual.

Sedangkan menurut  literatur obat India kuno, buahnya dapat memberikan efek menguntungkan  pada  peradangan, diuretik, dan TBC (Chopra  dalam Marchella, 2014).

Selain itu, menurur Ghani  (2003) buah tumbuhan dari ordo Solanales ini dapat digunakan untuk mengobati, diare, penyakit jantung, demam,  penyakit mata, edema anasarka  atau bengkak seluruh tubuh), penyakit anjing gila, ambeyen, pembesaran hati  kronis, blood-spitting (batuk berdarah),    dan  disentri.

Sementara menurut penelitian Gogoi dan Islam (2012) menunjukkan buah tumbuhan ini mengandung metabolit sekunder,  yaitu flavonoid,  alkaloid, tannin, dan saponin. Tidak hanya itu, juga terdapat, glikosida, gula pereduksi, gum,  dan  steroid pada  buahnya.

Metabolit-metabolit sekunder tersebutlah yang diduga berkhasiat sebagai obat. Jenis alkaloid yang dikandungnya adalah  solanin, solamargin, dan solasonin.

Sementara alkaloid pada daunnya mengandung solasonin  dan solamargin,  sedangkan  pada  buah  terdapat solanin,  solamargin,  solasonin,  α  dan  β-solanigrin,  dan  solasodin,  serta  solanin  pada biji tanamannya (Karmakar, 2010).

Tumbuhan ini termasuk terna atau perdu semusim atau tahunan yang tergantung tempat hidupnya. Tingginya bisa 120 cm, batangnya cenderung tidak berkayu, ditutupi rambut halus. Tumbuhan ini  menyukai kawasan ladang atau kebun yang terang.

Untuk daunnya bisa mencapai panjang 7 cm dengan lebar 5 cm, bercangap di tepinya, yang permukaannya dapat ditutupi rambut.

Bunganya tersusun dalam rangkaian, memiliki mahkota berwarna putih kehijauan, dengan kepala sari kuning tegak, menutupi putiknya.

Lamanti memilki buah yang kecil kurang dari 1 cm diameternya. Ketika masih muda akan berwarna hijau yang berangsur jadi ungu pekat yang terlihat seperti hitam jika telah masak.

Untuk mengonsumsi buahnya yang masih mengkal dan matang sebaiknya hati-hati karena bisa saja dapat mengandung racun. Namun, itu tergantung pada galurnya. Beracun atau tidaknya tergantung pula pada berasal dari kultivar mana. Jadi, sebaiknya  jangan mengonsumsi buahnya di sembarang tempat.

Taksonomi lamanti:


  • Divisi       : Tracheophyta

  • Upadivisi: Spermatophytina

  • Klad         : Angiosperms, Mesangiosperms, Eudicots, Core eudicots, Asterids, dan Lamiids

  • Ordo          : Solanales

  • Famili       : Solanaceae

  • Upafamili : Solanoideae

  • Tribus        : Solaneae

  • Genus       : Solanum

  • Spesies     : Solanum  nigrum

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2