Tolong, Jangan Panggil Saya "Kamu Bau!"

Klikhijau.com - Suatu waktu di Lebanon, negeri itu nyaris tenggelam karena sampahnya sendiri. Akibatnya, sekelompok orang melakukan demonstrasi di kantor pemerintahan Lebanon, meneriakkan satu frase m...

Tolong, Jangan Panggil Saya "Kamu Bau!"
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Suatu waktu di Lebanon, negeri itu nyaris tenggelam karena sampahnya sendiri. Akibatnya, sekelompok orang melakukan demonstrasi di kantor pemerintahan Lebanon, meneriakkan satu frase menggelikan "kamu bau!"

Seperti dikutip BBC Indonesia, Lebanon dikepung sampah sejak 2015. Masyarakat di sana seolah tak kuasa menghadapi situasi kritis, onggokan sampah di mana-mana dan bau-nya yang menyengat.

Lautnya jorok dan dipenuhi sampah plastik. Bahkan di pantainya, tak jarang dijumpai ada limbah medis. Seperti dilaporkan BBC Indonesia, di Lebanon, sampah langsung dibuang ke laut dan TPA di pesisir. Ini memicu bencana bagi ekosistem garis pantai dan kesehatan masyarakat.

Frase "kamu bau!" seolah menjadi luapan emosi banyak orang di Lebanon. Subjek "kamu" dalam narasi itu tentu bukan tunggal atau personal. "Kamu" dalam pengertian yang plural dan massif.

Bisa tertuju pada semua orang, terutama pada "perilaku" orang dan juga bisa mengarah pada institusi (pemerintah) yang dinilai gagal melahirkan policy efektif meredam luapan sampah.

Bagi banyak orang, di banyak negara, sampah memang acapkali dianggap sepeleh. Secara personal, orang sering berasumsi bahwa sampah yang mereka hasilkan akan diurus oleh petugas kebersihan. Atau sampah yang mereka buang di suatu tempat tidak akan berdampak langsung pada dirinya.

Semua akan tersadar bila dampak akibat sampah terjadi semisal banjir, penyakit, atau seperti di Lebanon--sampah hampir menenggelamkan warganya.

Bayangkan, kalau ada 10 orang lalai dengan membuang sampahnya sembarangan sebanyak tiga kali sehari, maka akan ada 30 titik sampah bergentayangan.

Bagaimana bila ada seribu, seratus ribu atau jutaan orang bersikap buruk demikian? Dalam sebulan saja, kita akan terbiasa melihat sampah serampangan di mana-mana. Bayangkan bila ini mendarah daging selama puluhan tahun?

Tanpa sadar, perilaku buruk warga dalam hal membuang sampah juga telah menjadi budaya. Budaya yang diakui sebagai perilaku biasa. Tak jarang, seorang pengendara mobil melemparkan botol minuman dari atas mobilnya di jalanan. Di mana-mana, puntung rokok berseliweran.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2