Tedi Asmara, Lelaki yang Melukis di Atas Daun Kering

Klikhijau.com - Telah lama saya mengoleksi daun kering. Daun itu saya dapatkan dari tempat yang saya kunjungi. Sebagian dibawakan teman dari kampungnya atau dari tempat yang dikunjunginya pula. Say...

Tedi Asmara, Lelaki yang Melukis di Atas Daun Kering
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Telah lama saya mengoleksi daun kering. Daun itu saya dapatkan dari tempat yang saya kunjungi. Sebagian dibawakan teman dari kampungnya atau dari tempat yang dikunjunginya pula.

Saya selalu meminta oleh-oleh kepada teman yang bepergian atau pulang kampung. Tidak mahal, tidak mengeluarkan uang, sebab yang saya minta hanya daun kering.

Daun keringnya tidak sembarangan, harus dari tempat yang daun keringnya belum ada sama saya. Sedangkan di kampung saya, daun kering, khususnya daun cengkih beberapa tahun terakhir telah dijual untuk diolah jadi minyak daun cengkih.

Sementara daun kering di depan rumah kekasih (nama rumah yang saya tempati) saya sering membakarnya. Karena jika tidak akan berubah menjadi sampah.

Perihal daun kering, meski tidak mencemari lingkungan, tapi sebagian orang menganggapnya mengganggu kebersihan. Khususnya kebersihan halaman rumah, maka daun kering harus disapu lalu dibakar seperti yang saya lakukan dengan daun kering di depan rumah kekasih.

Perlakuan kita tentang daun kering tentu berbeda-beda. Terutama bagi Tedi Asmara, lelaki 37 tahun di Kota Bogor itu menyulap daun kering jadi media lukis.

Di tangan Tedi, daun kering tidak hanya dibakar atau dkoleksi seperti yang saya lakukan. Dia menjadikannya ladang rezeki dengan nilai seni yang tinggi.

Tedi yang gemar menggambar sedari kecil. Sebelumnya, dia melukis sketsa wajah pada media kertas. Keterampilan membuat sketsa wajah di atas daun kering dipelajari Tedi secara otodidak.

Menurutya, melukis di atas daun kering tidak begitu sulit, sebab prinsipnya sama dengan saat menggambar menggunakan kertas. Ia hanya memindahkan media ke daun

Karena dari kado pernikahan

Kisahnya bermula ketika melihat di sekitar tempatnya bekerja, daun kering adalah sampah yang harus disingkirkan dengan cara dibuang atau dibakar.

"Awalnya sih waktu kerja di Jakarta sekitar tahun 2012, saya diminta bos untuk dibuatkan lukisan sebagai kado perkawinan dia," kata Tedi, Jumat, 16 Agustus 2019 seperti yang ditulis Achmad Sudarno di liputan6.com.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2