Sumpah Pemuda 2026, 560 Pemuda dari 22 Provinsi Serukan 5 Tuntutan Krisis Ekologi dan Sosial kepada Presiden

Sumpah Pemuda 2026, 560 Pemuda dari 22 Provinsi Serukan 5 Tuntutan Krisis Ekologi dan Sosial kepada Presiden
Sumpah Pemuda 2026, 560 Pemuda dari 22 Provinsi Serukan 5 Tuntutan Krisis Ekologi dan Sosial kepada Presiden, - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Di sektor pendidikan, gerakan pemuda ini menyoroti ketimpangan fasilitas, kualitas, hingga kesejahteraan tenaga pendidik di daerah-daerah terdepan. Di Maluku misalnya, keterbatasan infrastruktur sekolah dan ketidakpastian beasiswa masih menjadi hambatan besar bagi pemuda untuk mengecap pendidikan layak. Para peserta konsolidasi juga menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait potensi pengalihan anggaran pendidikan demi membiayai program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Persoalan ekonomi kerakyatan turut menjadi titik tekan. Masalah terbatasnya lapangan kerja yang layak, rendahnya standar upah minimum, anjloknya daya beli, hingga melambungnya harga kebutuhan pokok dirasakan semakin mencekik warga kecil, petani, nelayan, serta kelompok rentan.

Sayangnya, ruang menyampaikan pendapat justru kerap berbalas tekanan. Ulfa, aktivis muda Green Leadership Indonesia Jawa Timur, menyayangkan sikap penyelenggara negara yang dinilai sering merespons kritik masyarakat dengan intimidasi dan ancaman alih-alih menyelesaikan pokok masalah.

Pembacaan Deklarasi Pemuda Indonesia 2026 digelar secara hybrid melalui agenda Mimbar Pemuda yang menghubungkan ruang virtual dengan berbagai aksi lapangan, termasuk titik demonstrasi di Bundaran HI Jakarta dan Citra City Balikpapan.

Lima Tuntutan Pemuda Kepada Presiden RI

Secara garis besar, lima tuntutan utama yang ditujukan kepada Presiden meliputi: Pertama, desakan untuk memulihkan lingkungan dan ruang hidup masyarakat dari kerakusan industri ekstraktif yang mengabaikan daya dukung alam serta mengorbankan masyarakat adat.

Kedua, perwujudan pendidikan dasar dan menengah yang gratis, berkualitas, dan berkeadilan, disertai jaminan anggaran pendidikan 20 persen APBN/APBD dikelola secara transparan serta pemenuhan upah layak bagi tenaga pendidik.

Ketiga, penurunan harga bahan pokok, peningkatan upah minimum, serta penunaian janji penyediaan 19 juta lapangan kerja yang inklusif.

Keempat, penghentian kriminalisasi terhadap aktivis dan masyarakat kritis guna menjamin kebebasan berpendapat.

Kelima, penegakan supremasi sipil dalam tata kelola negara yang demokratis serta penghentian segala bentuk militerisasi di ruang sipil.

Deklarasi ini tidak sekadar menjadi lembar tuntutan kepada negara, melainkan fondasi konsolidasi jangka panjang. Gerakan pemuda berikrar untuk terus membangun jaringan solidaritas regional, mengawal isu-isu daerah di tingkat nasional, dan berjanji akan kembali berkumpul dalam konsolidasi agung pada 28 Oktober 2028 mendatangkan, tepat pada momentum satu abad Sumpah Pemuda.

Sebagaimana ditegaskan oleh Fachruddin dari Yayasan Anak Pesisir Raja Ampat, langkah ini menjadi pijakan bersama untuk memastikan bahwa suara dan krisis di tingkat lokal tetap bergema serta mengawal kebijakan nasional langsung dari basis-basis daerah.



 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan