Suara Rimba Selepas Pesta Rakyat
Suara Rimba Selepas Pesta Rakyat (1) Akan kusampaikan suara rimba pada sang alam, suara kecewa yang membawa duka dan malapetaka, segelintir pemimpin yang masih nyengir, disambut dengan sen...
Suara Rimba Selepas Pesta Rakyat
(1)
Akan kusampaikan suara rimba pada sang alam, suara kecewa yang membawa duka dan malapetaka, segelintir pemimpin yang masih nyengir, disambut dengan senang dan riang, atas kedatangan investor yang menyetor marabahaya, yang akan berimbas sengsara. Tak ada lagi suara kicau para burung yang murung. Satwa-satwa akan berduka, yang katanya ia lindungi, lalu menangis sadis, mengais sinis diatas puing-puing sisa pembangunan. Sepakat telah menjerat, sedangkan tempat yang telah direncana akan dibabat, diangkat lalu disikat. Melalui suara telah dilontarakan siasat para pujangga. Yak tak seirama dengannya. Waktu dipercepat, seakan semua dilangsungkan dalam jangka yang tak disangka. Apa hendaknya, yang senyawa akan berduka yang sejiwa akan tertawa. Meniikmati sarananya. Aturan mainnya ada di otak mereka. Yang membentak akan kecewa hingga akan merasa sengsara, secara bersama kita dalam masa merasa marabahaya. Lombok Tengah, 31 Januari 2020(II)
Langkah kaki itu begitu berat Matakaki dibalut luka yang menaun Kain rajutan yang menempel terlihat lusuh Muka membentuk tertunduk Diundang sampah plastik selepas pesta rakyat Menunggu dipinggir gorong-gorong Bengong tanpa tertolong Jari jemarinya sedang menyemai gundukan sampah yang berisi berkah Ada yang mencibir dengan seribu bibir Ada yang hatinya membatin, mengusik tangan ingin menolong Karung yang menjulang dipundak. Mendadak ringan beratnya rintangan Lombok Timur 2020(III)
Terpasung bingung Dengan tanya yang terus jaya Perempuanku terlihat melesu Membius tubuhku dalam tatapan mata yang sayu Bertubuh kecil Ditumbuhi dedaunan perjuangan Dikening yang terlihat penat Memanjat dengan cepat pohon beringin yang ramai dengan tali temali penuh impian Gersang, terlihat melayang Dipundak tanah yang berdebu Seribu rindu, terselip menyalip disaku tanpa namaku Mukanya membusung Tersandung dikeranjang sayang Suara gemerlap malam, menyiram tanah yang membelah sesak. Menyeruak berpecah sampai dipinang dalam ruang Sayang yang kerap tertuang Tanyanya dalam senyumnya Jawabnya dalam langkah pelannya Berakhir dengan membelah lelah dengan serakahnya rinduku dalam senyumnya Lombok Timur 2020(IV)
Di ujung jalan. Ada tanya yang bergelantungan dedaunan yang hijau. Serta jawaban keresahan yang bergeletak diatas dedaunan yang kering. Ada kecewa yang menempel oleh getah perintah. Lalu mematah tunas ranting yang akan meluas. Sejuknya udara telah tertimbun. Embun kesejukan telah menurun. Suasana disana kerap melahap kerinduan. Kerap ditebas bebas sebelum umur. Lalu terjemur mengering yang hening. Tanah hanya bisa pasrah, tanpa ada ranting yang akan melapuk untuk menjadi pupuk. Menangisi dedaunan kering yang tak menutupi demi lembabnya. Akar hanya bisa melingkar. Memberi batangnya ditebang tanpa ada tunas kecil yang akan disumbang. Tanah yang gersang kini mulai tertawa. Suasana sudah tak seperti cerita. Merangkul dan memukul pundak para budak. Hingga Debu menyerbu, mencumbu langkah kaki pedagang asongan dikota. Kita dalam duka. Dibungkus tawa, mencetus duta, raja, dan dewa, yang telah membawa air kehancuran yang berhamburan dusegala jalur. Berimbas keburukan untuk anak cucu kita. Lombok Timur, 28 Januari 2020Nama M. Azni Muhaini, lahir di Iwan, Desa Darmaji, Kec. Kopang Kabupaten Lombok Tengah, 15 Oktober 1995. Aktif sebagai anggota resmi OASISTALA Lombok Timur dan saat ini sedang aktif juga sebagai pegiat literasi di Darmaji Lombok Tengah.